Carr menyertakan surat kepada CEO Google Sundar Pichai dan CEO Apple Tim Cook, mengungkapkan mengapa TikTok perlu dihapus. Mengutip laporan dari minggu lalu yang menjelaskan ancaman keamanan nasional serius yang ditimbulkan oleh TikTok.
Carr memberi deadline dua raksasa teknologi itu hingga 8 Juli untuk menghapus TikTok atau menjelaskan mengapa mereka memilih untuk tidak mematuhinya.
Laporan tersebut, yang diterbitkan oleh BuzzFeed News, menyoroti audio yang bocor dari lebih 80 pertemuan internal TikTok yang mengungkapkan karyawan yang berbasis di China telah berulang kali mengakses data pengguna di Amerika Serikat.
“Jelas, TikTok menimbulkan risiko keamanan nasional yang tidak dapat diterima karena pengumpulan datanya yang ekstensif dikombinasikan dengan akses dari Beijing yang tampaknya tidak terkendali terhadap data sensitif itu,” tulis Carr dalam suratnya.
"Tetapi juga jelas pola perilaku TikTok dan representasi yang salah mengenai akses tak terbatas yang dimiliki orang-orang di Beijing terhadap data pengguna AS yang sensitif membuatnya tidak sesuai dengan kebijakan yang harus dipatuhi oleh kedua perusahaan sebagai syarat setiap aplikasi,” tegasnya.
DailyMail.com telah menghubungi TikTok, Google dan Apple untuk memberikan komentar dan belum menerima tanggapan. Surat itu berlanjut dengan bukti adanya beberapa kekhawatiran tentang mengapa aplikasi milik China harus dihapus.
Ini termasuk insiden pada Maret 2020 ketika para peneliti menemukan aplikasi, melalui App store Apple, mengakses data sensitif pengguna kata sandi, alamat dompet cryptocurrency dan pesan pribadi.
Carr juga mencatat beberapa cabang militer AS telah melarang TikTok pada perangkat yang dikeluarkan pemerintah dan telah mendesak pribadi untuk menghapus aplikasi dari ponsel cerdas pribadi mereka.
Itu juga mengutip keputusan TikTok pada tahun 2021 untuk membayar $92 juta, setara dengan Rp1,368 triliun lebih untuk menyelesaikan lusinan tuntutan hukum yang menuduh aplikasi TikTok mengumpulkan data pribadi tanpa persetujuan pengguna dan sebagian besar pengguna ini adalah anak di bawah umur untuk kemudian menjualnya kepada pengiklan.
Surat Carr juga mengutip laporan BuzzFeed yang muncul bulan ini dimana dalam investigasi yang dilakukan BuzzFeed News mengidentifikasi Master Admin yang berlokasi di Beijing memiliki akses ke segalanya' terlepas dari klaim TikTok tentang penyimpanan data sensitif di AS.
Rekaman yang diperoleh BuzzFeed News dan dilaporkan oleh jurnalis Emily Baker-White fokus pada kekhawatiran yang dibuat oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat dia menjabat.
Pada Agustus 2020, Trump menandatangani perintah eksekutif yang akan melarang TikTok dan aplikasi obrolan China WeChat di Negeri Paman Sam.
Perintah tersebut menyatakan pengumpulan data TikTok mengancam untuk memungkinkan Partai Komunis China mengakses informasi pribadi dan hak milik orang Amerika.
Presiden Joe Biden tahun lalu mencabut perintah eksekutif dari Trump dan mengeluarkan perintah eksekutif baru yang menghapus larangan yang tidak diterapkan pada TikTok dan menyerukan analisis berbasis bukti untuk mengatasi risiko dari aplikasi internet yang dikendalikan oleh entitas asing. TikTok sendiri diklaim sudah mengakui akses ke data penggunanya dan menjadi masalah.
Editor: Aspian Nur