Studi ini menemukan fakta, otak manusia cenderung tidak bisa memproses informasi secara mendalam di mesin pencari seperti Google karena diakses dengan mudah dan diambil secara online yang membuat seseorang tidak perlu repot mempelajarinya.
Dan faktanya, seseorang lebih cenderung mengingat cara mengakses informasi, seperti kata kunci untuk kueri mesin telusur daripada informasi yang dicari.
Kondisi ini disebut “kikir kognitif” yang berarti seseorang memiliki kecenderungan bawaan untuk menghindari upaya kognitif apa pun, kemungkinan karena malas.
Penelitian ini dilakukan oleh Dr Esther Kang dari Fakultas Manajemen, Ekonomi dan Ilmu Sosial, Universitas Cologne, Jerman dan dipublikasikan dalam Journal of Experimental Psychology: Applied.
“Akses internet di mana-mana telah memberikan kemudahan informasi dan telah memengaruhi perhatian dan manajemen pengetahuan pengguna,” kata Esther dalam makalahnya dilansir dari laman Dailymail.co.uk Selasa (22/3/2022) hari ini.
Menurutnya, memiliki informasi diujung jari seseorang melalui perangkat elektronik seperti komputer dan smartphone menyebabkan berkurangnya perhatian dan daya ingat.
“Ketika informasi yang disimpan secara eksternal mudah diakses dan diambil, seseorang tidak cenderung untuk memproses detail secara mendalam karena mereka dapat dengan mudah mencari informasi kapan pun dibutuhkan,” papar Esther yang melakukan tiga studi yaitu belajar, melupakan dan berlangganan.
Eksperimen pertama menguji kemampuan mahasiswa bergelar sarjana untuk mengingat detail penawaran kartu kredit online. Semakin tinggi kemudahan menemukan informasi yang dirasakan, semakin rendah ingatan rincian penawaran kartu kredit menurut Esther.
Dalam percobaan kedua, peserta lupa informasi dalam iklan setelah mereka tahu itu tersedia dalam pencarian online. Dan dalam percobaan ketiga Esther menemukan fakta seseorang lebih cenderung berlangganan blog online jika mudah diakses.
Studi menemukan perbedaan antara orang dengan 'kapasitas memori kerja' yang lebih tinggi atau lebih rendah, kemampuan untuk menyimpan informasi saat melakukan tugas mental. Menariknya, mereka yang memiliki kapasitas memori kerja yang lebih tinggi menunjukkan pembelajaran yang kurang teliti dari informasi rinci yang tersedia secara online.
Mungkin semakin banyak informasi yang dapat disimpan, semakin sedikit detail setiap informasinya. “Manajemen pengetahuan strategis ini memungkinkan seseorang untuk menyimpan sumber perhatian kegiatan sehari-hari,” jelasnya.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan efek penyimpanan informasi pada perangkat terhadap kinerja kognitif otak manusia. Ini kembali ke awal peradaban, dimana perekaman informasi di mana saja selain otak manusia terbukti kontroversial.
Dalam mitos Mesir kuno, penemu Theuth menyajikan konsep menulis kepada raja Mesir, Thamus, agar informasi dapat didistribusikan dan diketahui secara luas. Namun Thamus tidak terkesan dengan konsep menulis dan menentangnya demi kebaikan kecerdasan manusia.
Menurut buku 'Technopoly' Neil Postman tahun 1992, Thamus mengatakan mereka yang belajar menulis akan berhenti melatih ingatan mereka dan menjadi pelupa. “Mereka akan mengandalkan tulisan untuk mengingat sesuatu dengan tanda-tanda eksternal, bukan dengan sumber internal mereka sendiri,” ujar Theuth saat itu.
Lalu apa itu amnesia digital? Amnesia digital juga dikenal sebagai efek Google. Ini adalah kecenderungan untuk melupakan informasi yang dapat ditemukan dengan mudah secara online dengan menggunakan Google.
Ternyata itu mempengaruhi memori jangka panjang seseorang serta ingatan jangka pendek bahkan meredam kecerdasan.
Versi laporan yang diterbitkan pada bulan Oktober dari Kaspersky Lab menemukan data mayoritas peserta di seluruh Eropa tidak dapat mengingat nomor telepon anak-anak mereka. Separuh orang di Inggris mengaku tidak tahu nomor telepon pasangannya.
Editor: Aspian Nur