Dan impian Allen terwujud dua hari lalu saat pesawat yang dirancangnya Stratolaunch, berhasil melakukan uji terbang keempat, mengudara di atas gurun California Selatan selama hampir dua jam.
Bukan pesawat biasa, karena Stratolaunch disebut sebagai pesawat terbesar di dunia, memiliki lebar sayap 383 kaki berbentuk seperti huruf H.
Stratolaunch lepas landas dari Mojave Air and Space Port di California, Amerika Serikat, terbang selama satu jam 43 menit, mencapai ketinggian maksimum 15.000 kaki (4.572 meter) dan kecepatan maksimum 178mph, meskipun dapat mencapai hingga 530mph.
Test flight 4 dilakukan untuk menarik kembali semua roda pendarat ke dalam pesawat untuk pertama kalinya, tetapi penerbangan itu terputus karena masalah getaran dan lampu peringatan yang menyala setelah satu jam penerbangan.
Namun pesawat kembali ke bandara Mojave dan melakukan empat kali terbang lintas untuk memastikan masih berfungsi seperti yang diharapkan dan menghabiskan bahan bakar ekstra sebelum mendarat dengan selamat.
Tiga orang berada di pesawat tersebut terdiri dari dua pilot dan satu insinyur penerbangan.
Dengan lebar sayap 383 kaki, Stratolaunch lebih lebar dari panjang lapangan sepak bola dari gawang ke gawang yang umumnya sekitar 345 kaki dan diharapkan bisa operasional penuh pada pertengahan hingga akhir 2023.
Sayangnya Allen tak bisa melihat bagaimana pesawat ini terbang. Allen meninggal dunia pada usia 65 tahun Oktober 2018 silam karena komplikasi limfoma non-Hodgkin, kurang dari setahun sebelum Stratolaunch terbang untuk pertama kalinya.
Allen bermaksud menggunakannya sebagai pesawat pengangkut untuk peluncuran luar angkasa, membawa roket bermuatan satelit di bawah bagian tengah sayap dan melepaskannya di ketinggian.
Ketika perusahaan Stratolaunch didirikan pada tahun 2011, biaya proyek awalnya diperkirakan mencapai £215 juta ($300 juta), setara dengan Rp4,3 miliar. Tetapi nilainya bahkan lebih tinggi pada tahun 2019, yaitu $400 juta, menurut CNBC.
“Penerbangan yang sukses hari ini menunjukkan dan memvalidasi perbaikan pada sistem pesawat pengangkut dan kinerja penerbangan secara keseluruhan,” kata Dr Zachary Krevor, Presiden dan Chief Operating Officer Stratolaunch dilansir dari laman Dailymail.co.uk Minggu (27/2/2022) hari ini.
“Pencabutan dan perpanjangan roda pendarat penuh membawa pesawat pengangkut lebih dekat ke status operasional, tonggak sejarah yang diperlukan untuk menyiapkan pesawat untuk pemisahan Talon-A dan uji penerbangan hipersonik akhir tahun ini,” imbuhnya.
Stratolaunch merupakan pesawat kembar seperti katamaran, perahu dengan lambung ganda yang menampilkan dua lambung paralel dengan ukuran yang sama. Pilot mengemudikan pesawat cukup jauh ke kanan garis tengah, sedikit mirip dengan pesawat Millennium Falcon di Star Wars.
Badan pesawat sebelah kiri memiliki kokpit dengan jendela tetapi bagian itu sebenarnya kosong dan tidak bertekanan. Didukung oleh jenis mesin yang sama yang digunakan oleh Boeing 747, Stratolaunch memiliki berat sekitar 500.000 pound tanpa kargo. Namun pesawat bisa lepas landas dengan berat maksimum 1,3 juta pon (589.676 kilogram).
Selain lebarnya yang memecahkan rekor, Stratolaunch memiliki ketinggian yang mengesankan – ia berdiri 50 kaki dari tanah ke puncak ekor vertikalnya.
“Dengan ketinggian lebih dari empat lantai, berdirilah seekor paus bungkuk di sampingnya dan ia akan kesulitan melihat dari atas pesawat,” kata PaulAllen.com, website resmi pesawat ini.
Peluncuran dua hari lalu melanjutkan test flight 3 pada 16 Januari, yang berlangsung selama empat jam, 23 menit di atas Gurun Mojave. Mencapai ketinggian 23.500 kaki (7162,8 m) pada kecepatan udara yang ditunjukkan 207mph (180 knot).
Sementara test flight pertama dan kedua berlangsung April 2021, meskipun pertama kali mengudara pada April 2019.
Setelah penerbangan perdananya pada April 2019, Stratolaunch mengalami perubahan kepemilikan dan muncul laporan perusahaan tersebut akan berhenti beroperasi sepenuhnya.
Pemilik baru berencana untuk menggunakannya sebagai pesawat pengangkut untuk peluncuran kendaraan penelitian penerbangan hipersonik yang dapat digunakan kembali.
Editor: Aspian Nur