Namun ternyata dikehidupan nyata memang ada Iron Man. Dialah Richard Browning, pria asal Inggris penemu mesin jet yang bisa menerbangkan diri sendiri dengan peralatan canggih.
Ya, pria berusia 41 tahun yang dijuluki Iron Man kehidupan nyata itu mewujudkan impian banyak orang untuk bisa terbang.
Dengan mesin jet senilai £340.000 atau setara dengan Rp5,4 miliar rupiah, Richard membuat mesin jet terbang miliknya memiliki tenaga kuda lebih besar daripada supercar Bugatti Veyron yang memungkinkannya terbang dengan kecepatan hingga 85 kilometer per jam dan dapat mencapai ketinggian 12.000 kaki.
Namun alat yang diciptakan Richard lebih difungsikan untuk kemanusiaan tepatnya untuk kegiatan paramedis yang akan dilatih agar memungkinkan mereka terbang dan menyelamatkan pejalan kaki yang terluka yang terjebak di puncak pegunungan Inggris atau kawasan sulit dijangkau.
Itu berarti si pengguna mesin jet ini bisa mencapai puncak puncak seperti Gunung Bowfell di Lake District Inggris hanya dalam waktu 90 detik, bukan 25 menit berjalan kaki untuk mencapainya. Dengan begitu setidaknya nyawa seseorang bisa dengan lebih cepat tertolong.
“Jet ini memungkinkan Anda untuk terbang dan bergerak dengan cara tiga dimensi yang benar-benar bebas, hampir seperti pahlawan super,” kata Richard yang pendiri dan kepala uji coba di Gravity Industries, dilansir dari laman Thesun.co.uk Selasa (4/1/2021) hari ini.
“Kami hanya perlu menguji lebih dalam hal apa yang mungkin dicapai dengan teknologi yang kami buat ini,” imbuhnya.
Great North Air Ambulance Service Inggris, yang menanggapi lebih dari 1.500 panggilan setiap tahun, menggambarkan penemuan Richard berpotensi menyelamatkan jiwa sebagai "luar biasa".
Hanya saja Richard tidak berniat untuk merevolusi transportasi manusia atau menjadi pahlawan dengan alat yang diciptakannya itu.
Selama 16 tahun Richard bekerja sebagai penjual minyak di London tetapi berkeinginan besar mengejar mimpinya untuk bisa terbang.
“Saya memiliki karir yang sangat bagus di Canary Wharf dan sejujurnya memulai ini untuk bersenang-senang. Kami tidak percaya bisa menciptakan alat ini dan tidak berencana membuat kostum Iron Man. Ini lebih tentang menambahkan jumlah tenaga kuda yang tepat ke pikiran dan tubuh manusia, tanpa bantuan apa pun termasuk komputer,” paparnya.
“Kedengarannya konyol, namun akhirnya bekerja jauh lebih baik dari yang kami bayangkan,” sebut Richard.
“Benar-benar tidak ada alasan bisnis di balik ini semua, hanya sekadar kegembiraan dan tantangan,” tegasnya.
Alat yang dibuat Richard berbahan bakar diesel yang memiliki lima mesin, memberikan daya dorong yang cukup untuk mengangkat manusia dari tanah. Pengendalinya ada dibagian lengan atau vectoring.
Ini mungkin terdengar rumit, tetapi Richard membandingkan penemuannya yang tampak futuristik dengan sepeda klasik. "Ketika Anda mengenakan jet ini, Anda tidak duduk di kursi dengan sistem kontrol dan komputer tapi seperti bersepeda di langit. Sepeda tidak melakukan banyak hal dengan sendirinya tetapi menambahkan manusia untuk melakukan pekerjaan dan melihat hasilnya. Cukup menakjubkan,” paparnya.
Perasaan Richard bisa terbang di udara hampir tidak mungkin untuk dijelaskan. Analogi terdekat yang bisa dia pikirkan adalah mimpi terbang yang sering kita miliki saat masih anak-anak tetapi juga sebagai orang dewasa.
“Memang seperti itu, percaya atau tidak, benar-benar bebas. Bisa berlari dan melangkah dari tanah dan terus berjalan, terbang dan melayang dan bisa pergi ke mana pun Anda suka. “Ini benar-benar terlihat seperti CGI dalam sebuah film,” papar ayah dua anak ini.
Richard merancang mesin ini karena terinspirasi oleh waktunya yang dihabiskan untuk mendorong tubuhnya hingga batas maksimal sebagai tenaga sukarelawan di Royal Marines Reserve dan pelari ultramaraton.
Tapi jiwa penerbang sejatinya mengalir dalam darah Richard. Kakeknya adalah Sir Basil Blackwell yang mengemudikan Westland Helicopters, sementara ayahnya seorang penemu, perancang, dan insinyur penerbangan yang luar biasa.
“Ayah saya sangat menginspirasi apa yang saya lakukan hari ini. Gairah saya untuk penerbangan, fisika, desain dan saya benar mewarisi itu,” sebutnya.
Ketika Richard baru berusia 15 tahun, ayahnya mengakhiri hidupnya sendiri dan meninggalkan banyak ambisi yang tidak terpenuhi. "Saya merasa melakukan perjalanan ini, mengambil tantangan yang sedikit berani dan mencoba untuk menyelesaikannya, saya menghidupkan kembali beberapa aspirasi ayah saya," tutur Richard.
Didorong oleh perusahaan ayahnya, daftar prestasi Richard meroket. Dia telah melatih sejumlah besar klien untuk terbang tanpa bantuan dan sudah terbang ke 31 negara.
Bahkan Richard pernah memecahkan Rekor Dunia Guinness miliknya sendiri untuk terbang tercepat dengan mesin jet ketika dia melesat di samping Dermaga Brighton dengan kecepatan 85,06 mph pada November 2019 - jauh melampaui 32,02 mph sebelumnya.
Richard yang tinggal bersama istri dan dua putranya di Sailsbury, Wiltshire, bahkan telah membuat putranya yang masih remaja, Oliver, belajar terbang dan membuat sang anak bisa terbang bebas dalam waktu singkat.
Editor: Aspian Nur