Beberapa robot sangat lincah, bergerak seperti pelari terkenal seperti Usain Bolt, sementara yang lain memiliki kemampuan yang lebih mendasar.
Robot humanoid pemenang, yang dilengkapi dengan sistem navigasi otonom dan mewakili produsen ponsel pintar Tiongkok bernama Honor, menyelesaikan lintasan sepanjang kurang lebih 21 kilometer (13 mil) dalam waktu 50 menit dan 26 detik, dengan kecepatan rata-rata sekitar 25 kilometer per jam , menurut stasiun televisi pemerintah CCTV.
Itu jauh lebih cepat daripada waktu terbaik manusia dalam perlombaan hari Minggu, dan juga mengalahkan rekor dunia putra saat ini yaitu 57:20 yang dipegang oleh pelari Uganda, Jacob Kiplimo.
Hasil tersebut menunjukkan kemajuan yang spektakuler dibandingkan tahun lalu, ketika robot pelari berulang kali terjatuh dan yang terbaik membutuhkan waktu lebih dari dua jam 40 menit untuk menyelesaikan perlombaan.
Menurut penyelenggara, jumlah peserta yang menggunakan robot humanoid meningkat dari sekitar 20 tahun lalu menjadi lebih dari 100, yang merupakan pertanda meningkatnya popularitas sektor ini.
Han Chenyu, seorang mahasiswi berusia 25 tahun yang menyaksikan perlombaan dari balik pembatas keamanan, hampir tidak sempat mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar robot terdepan saat melaju kencang. Dirinya sangat antusias dengan kemajuan teknologi ini dan bahwa dia menganggap acara tersebut "sangat keren" .
“Sebagai seseorang yang bekerja untuk mencari nafkah, saya terkadang merasa sedikit khawatir. Saya merasa teknologi berkembang begitu pesat sehingga dapat mulai memengaruhi pekerjaan orang, terutama dengan kecerdasan buatan yang semakin canggih,” papar Han melansir dari laman AFP Senin (20/4/2026) hari ini.
Robot humanoid telah menjadi pemandangan umum di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, baik di media maupun di ruang publik.
Xie Lei yang menonton balapan bersama keluarganya, mengatakan robot dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dalam beberapa tahun ke depan, berpotensi digunakan untuk "pekerjaan rumah tangga, pendampingan bagi lansia atau perawatan dasar" atau "pekerjaan berbahaya, bahkan petugas pemadam kebakaran."
Lomba lari setengah maraton humanoid ini bertujuan untuk mendorong inovasi dan mempopulerkan teknologi yang digunakan untuk menciptakan dan mengoperasikan mesin-mesin ini.
Sebagai bukti kekuatan industri ini, investasi dalam robotika dan apa yang disebut AI terintegrasi mencapai 73,5 miliar yuan (10,8 miliar dolar AS) di Tiongkok pada tahun 2025, menurut sebuah studi oleh lembaga pemerintah.
“Selama ribuan tahun, manusia telah berada di puncak planet Bumi. Tapi sekarang, lihatlah robot-robot itu. Dalam hal navigasi otonom saja, setidaknya dalam ajang olahraga tertentu ini, mereka sudah mulai melampaui kita,” kata Xie.
Editor : Aspian Nur