Dr Jane Thornton, kepala petugas medis dan ilmiah IOC baru-baru ini mempresentasikan hasil evaluasi ini kepada para anggota organisasi. Melansir dari laman The Telegraph Selasa (11/11/2025) hari ini, pembaruan tersebut mengungkapkan bukti ilmiah mendukung adanya keuntungan fisik yang diperoleh karena terlahir sebagai laki-laki yang tetap ada bahkan setelah penurunan kadar testosteron.
Sumber-sumber IOC yang dikutip oleh publikasi tersebut menggambarkan presentasi tersebut sebagai "sangat ilmiah, objektif dan cukup jelas dalam penyajian buktinya," sehingga mengantisipasi arah keputusan akhir.
Saat ini, kebijakan IOC mendelegasikan wewenang kepada setiap federasi internasional untuk menentukan aturan tentang kelayakan atlet transgender yang telah menyebabkan beragam pendekatan.
Meskipun disiplin ilmu seperti atletik dan renang sudah mengecualikan atlet transgender dari kategori putri, cabang olahraga lain seperti sepak bola, mengizinkan partisipasi mereka asalkan memenuhi persyaratan khusus, seperti penurunan testosteron. Kesenjangan regulasi ini telah menimbulkan situasi kontroversial dan perdebatan berkelanjutan tentang kesetaraan dalam olahraga putri.
Kehadiran perempuan transgender di Olimpiade sangat jarang. Contoh terbaru adalah Laurel Hubbard , atlet angkat besi Selandia Baru, yang berkompetisi di Olimpiade Tokyo 2020 tanpa meraih medali.
Kebijakan baru IOC yang potensial ini juga dapat memengaruhi atlet dengan perbedaan perkembangan jenis kelamin seperti Caster Semenya dari Afrika Selatan , peraih medali emas lari 800 meter di London 2012 dan Rio 2016, yang kariernya diwarnai oleh pembatasan regulasi yang diberlakukan oleh cabang olahraganya.
Kontroversi seputar kelayakan gender semakin memanas di Olimpiade Paris 2024 ketika petinju Imane Khelif dan Lin Yu-Ting memenangkan medali emas meskipun tidak memenuhi kriteria kelayakan gender di Kejuaraan Tinju Dunia.
Presiden IOC yang merupakan bagian dari komite eksekutif yang menangani kontroversi di Paris mengakui pelajaran selalu dipelajari dengan Paris satu diantaranya meskipun ia menegaskan kontroversi khusus ini tidak mungkin diprediksi.
Pada bulan Januari, Coventry, peraih tujuh medali Olimpiade untuk cabang renang mengatakan kalau melindungi olahraga perempuan adalah prioritas.
“Melindungi olahraga perempuan adalah yang terpenting, prioritasnya adalah bersatu secara kolektif,” tegasnya.
IOC diperkirakan akan mengumumkan kebijakan barunya pada Februari 2026 mendatang, bertepatan dengan Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina d'Ampezzo.
Organisasi ini juga sedang mengkaji potensi dampak hukum dari kebijakan tersebut, mengingat badan-badan pengatur lainnya telah mengambil sikap serupa dalam konteks internasional. Di Britania Raya, Asosiasi Sepak Bola dan Dewan Kriket Inggris dan Wales telah menerapkan larangan awal tahun ini, meskipun ECB saat ini sedang menghadapi tuntutan hukum atas perubahan kebijakannya.
Di Amerika Serikat, Komite Olimpiade Nasional baru-baru ini melarang perempuan transgender berpartisipasi dalam cabang olahraga perempuan, sesuai dengan perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Presiden Donald Trump dengan tujuan Olimpiade Los Angeles 2028. Aktivitas atlet seperti Semenya dan Khelif telah dibatasi oleh pembaruan aturan di masing-masing disiplin, yang mencerminkan tren global menuju regulasi yang lebih ketat terkait hal ini.
Editor: Aspian Nur