Saat perebutan poin terakhir, Cazaux melakukan kesalahan sendiri yang membuatnya kalah. Davidovich pun merayakan kelolosannya ke babak berikutnya dengan meletakkan tangannya di sisi wajahnya dan menutup mata, membuat gestur "pergi tidur". Tepat saat itu, para penggemar mulai mencemoohnya merasa terprovokasi sementara Davidovich melanjutkan selebrasi dengan gestur perpisahan, melambaikan tangan dan berteriak "Vamos!"
Adegan berlanjut setelah salam perpisahan yang lazim antara pemenang, kedua pemain saling bersalaman juga kepada wasit. Sekembalinya ke posisinya, Davidovich mengulangi gestur "selamat malam" yang tentu saja membuat fans tuan rumah kesal dan berteriak mencemooh ketika kamera siaran menangkap seorang gadis mengibarkan bendera Spanyol di tribun penonton.
Gestur ini, yang dapat diartikan sebagai provokasi, sering digunakan oleh bintang NBA Stephen Curry ketika ia mencetak three-pointer untuk Golden State Warriors sebagai cara untuk "membuat lawannya tertidur," seolah-olah memberikan pukulan telak.
Usai pertandingan, petenis berusia 26 tahun asal Malaga yang berada di peringkat ke-15 ATP itu menyatakan musim gemilangnya bukanlah sekadar kebetulan.
Setelah final yang dimainkan di Basel, Belgia bulan lalu, ia terus menunjukkan kepribadiannya di lapangan, memastikan kemenangan melawan Cazaux setelah bermain selama satu jam 59 menit.
“Kepercayaan diriku meningkat. Ini pertandingan sulit,” ujar Davidovich melansir dari Marca.com.
Untuk memperebutkan tempat di perempat final, Davidovich akan menghadapi Alexander Zverev, unggulan ketiga yang memimpin rekor pertemuan mereka dengan lima kemenangan dan hanya satu kekalahan. Satu-satunya kemenangan Davidovich Fokina melawan petenis Jerman itu diraih di babak kedua ATP Masters 1000 di Kanada pada tahun 2023.
Editor: Aspian Nur