Tak pelak hal itu menciptakan momen unik di media sosial dan memicu perdebatan sengit tentang inovasi dan tradisi dalam olahraga yang populerkan kalangan kulit putih.
Melansir dari laman Lanouvelere Jumat (5/9/2025) hari ini Maric yang saat ini berada diperingkat ATP 878 memberikan komentarnya terkait raket bergagang dua itu.
"Saya memutuskan untuk menggunakannya setahun yang lalu atas saran pelatih saya, Max Vincent yang memilikinya. Setelah masa adaptasi, saya segera menyadari saya memiliki lebih banyak kendali dan lebih banyak pilihan permainan, terutama dengan pukulan backhand saya," ungkap Maric.
Keunikan raket Maric terletak pada kemampuannya untuk bergantian menggunakan lengan untuk memukul bola dengan forehand. Fitur ini menghilangkan kebutuhan akan pukulan backhand yang secara tradisional merupakan keterampilan teknis dasar tenis profesional. Meskipun ia kidal, kemampuan ambidextrous yaitu menggunakan kedua tangan secara bergantian, memperkuat kemampuannya di lapangan dan membingungkan lawan yang terbiasa dengan pola permainan tradisional.
Perlu dicatat, aturan resmi ITF yang juga mengatur semua kompetisi ATP, mendefinisikan raket sebagai bebas dari benda, tonjolan atau perangkat apa pun yang terpasang yang memungkinkan perubahan bentuk raket secara material atau yang dapat mengubah momen inersia terhadap sumbu utama, atau mengubah sifat fisik apa pun yang dapat memengaruhi kinerja raket selama permainan poin.
Namun dalam Lampiran II bagian “Raket", ITF mengklarifikasi. "Federasi Tenis Internasional akan memutuskan apakah suatu raket atau prototipe sesuai dengan spesifikasi dalam Lampiran II atau disetujui untuk digunakan dalam permainan. Penentuan tersebut dapat dilakukan atas inisiatifnya sendiri atau atas permintaan pihak yang memiliki minat yang tulus terhadap permainan ini, termasuk pemain, produsen peralatan tenis , atau asosiasi nasional atau anggotanya," tulis peraturan itu.
Kasus Maric langsung mengingatkan kita pada kasus Teodor Davidov , seorang pemuda Amerika keturunan Bulgaria yang, di usia 15 tahun memukau dunia tenis dengan kemampuannya melepaskan pukulan backhand dan memilih gaya tenis "double forehand" berkat kemampuannya yang ambidextrous.
Menurut The Guardian, ayah sekaligus pelatihnya Kalin Davidov menjelaskan, Teodor adalah orang yang mempromosikan pendekatan yang tidak biasa ini sejak putranya berusia tujuh tahun.
"Ketika Teo hampir berusia delapan tahun, saya memutuskan untuk mulai bermain dengan tangan kirinya untuk memengaruhi belahan otak kanannya. Dia sangat ekstrovert, bersemangat, dan agak tidak seimbang, jadi saya hanya ingin memengaruhi belahan otak kanannya, menggunakan sisi kiri tubuhnya. Keseimbangan antara belahan kiri dan kanan sangat penting," jelas Kalin kepada media Inggris tersebut.
Perhatian media terhadap kasus Davidov melonjak setelah video yang menunjukkan tekniknya, di mana ia mengganti raket dari tangan ke tangan, menjadi viral. Sementara para penggemar dan pakar merayakan plastisitas otak dan koordinasi yang dibutuhkan metode ini, para kritikus mempertanyakan apakah pergantian tangan dapat menjadi kerugian kompetitif di masa depan, kehilangan detik-detik berharga melawan lawan-lawan yang berlevel tinggi.
Editor: Aspian Nur