Louganis menjelaskan penjualan dua medali emas dan satu medali perak miliknya menghasilkan $437.000, setara dengan Rp7,2 Miliar, jumlah yang melebihi ekspektasinya.
"Saya membutuhkan uang itu," ujar sang mantan atlet tersebut dalam sebuah unggahan melansir dari laman New York times Kamis (4/9/2025) hari ini.
Karier atletik Louganis menjadikannya sosok yang tak terbantahkan di dunia loncat indah. Ia berpartisipasi dalam tiga Olimpiade Montreal 1976 , Los Angeles 1984 , dan Seoul 1988 dan memenangkan lima medali: empat emas dan satu perak.
Namanya tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya pria yang memenangkan gelar Olimpiade berturut-turut di nomor papan loncat dan platform, sebuah prestasi yang diraihnya pada tahun 1984 dan 1988.
Langkah ini diperlukan untuk menyelesaikan kepindahannya dan memulai hidup baru di luar Amerika Serikat. "Saya sangat bahagia dengan rumah yang saya jual," ujarnya dan mendoakan agar rumah tersebut memberikan "sukacita, cinta, kedamaian, kebahagiaan dan rasa aman kepada pemilik barunya
Proses berpisah dengan barang-barangnya melampaui materi. Louganis bercerita selain medali dan rumahnya, ia menjual, menyumbangkan atau memberikan banyak barang pribadinya. Keputusan ini dipengaruhi oleh pengalaman teman-teman dekatnya yang kehilangan segalanya dalam kebakaran di Woolsey dan Palisades awal tahun ini.
"Saya tahu saya memilih untuk melakukan ini, tetapi ketangguhan mereka menginspirasi saya untuk memulai kembali, dengan hati dan pintu terbuka," ungkap mantan atlet lompat rintangan ini, yang mengakui kesulitan yang dialami orang-orang di sekitarnya mendorongnya untuk memikirkan kembali nilai benda-benda dan membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.
Kepindahannya ke Panama bukanlah dorongan tiba-tiba, melainkan hasil dari proses introspeksi dan pencarian makna. "Sekarang saatnya bagi saya untuk menemukan siapa Greg Louganis. Tanpa gangguan dan kebisingan dunia luar ," tulisnya.
Tujuannya adalah untuk terhubung kembali dengan esensinya dan membiarkan dirinya menjalani pengalaman yang menyehatkan jiwanya, jauh dari ekspektasi dan label yang telah mengikutinya selama beberapa dekade.
Setelah pensiun dari kompetisi, Louganis mendiversifikasi kariernya dengan terjun ke dunia akting, pidato motivasi dan komentator olahraga. Pada tahun 1994, ia mengaku sebagai seorang gay dan setahun kemudian mengungkapkan status penyakit HIV yang dideritanya. Keputusan-keputusan ini membentuk kehidupan pribadi dan profesionalnya serta menjadikannya simbol ketahanan dan keterbukaan.
Dalam babak baru ini, Louganis berusaha mengeksplorasi identitasnya melampaui prestasi atletik dan penghargaan publik. Aspirasinya adalah untuk sepenuhnya menjalani hidup dan memelihara jiwanya melalui setiap pengalaman, dalam perjalanan penemuan pribadi yang kini membawanya ke Panama.
Editor: Aspian Nur