Rufus berada di kawasan itu dengan tugas utama mencegah burung merpati masuk ke lapangan saat para pemain bertanding di rumput selama dua minggu setiap tahun.
Seiring bertambahnya usia, perencanaan suksesi mulai dilakukan dengan para petinggi turnamen berjuluk SW19 itu yang begitu terkesan dengan kerja Rufus berharap ada regenerasi alias memiliki anak, menggantikan posisinya ketika ia tidak lagi mampu menjalankan tugasnya.
Hal ini memicu pencarian pasangan untuk Rufus oleh pengasuhnya Donna. Namun nyatanya, keinginan itu gagal terwujud karena Rufus ternyata tak mau membuahi pasangannya, Pamela.
Ini sebenarnya bukan upaya pertama untuk meyakinkan burung tersebut untuk kawin agar Rufus memiliki keturunan untuk menggantikannya - setidaknya hingga saat ini.
Pertanyaan tentang orientasi seksual burung itu pun muncul, dengan Donna bersikeras dia dapat mencoba meyakinkannya untuk kawin lagi di masa depan. “Mereka tidak cocok. Pamela cukup agresif. Itu bukan cinta pada pandangan pertama. Tapi mungkin bisa mencoba membiakkannya lagi di masa depan,” kata Donna, wanita berusia 58 tahun itu melansir The Telegraph.
Ketika ditanya apakah ada kemungkinan Rufus hewan gay, Donna menduga bisa saja hal itu terjadi. “Ada kemungkinan besar. Saya tidak berpikir itu tidak biasa (di antara burung),” ucapnya lagi.
Rufus juga bekerja di Westminster Abbey, Old Bailey, dan lapangan kriket Lord's dan telah berpatroli di Wimbledon sejak dia berusia 16 minggu, dibesarkan di Brigstock, Northamptonshire dan sering terlihat mengusir merpati setelah manusia yang dipekerjakan kesulitan melakukannya.
“Awalnya alasan kami (dirinya bersama Rufus) berada disini adalah karena (Pete) Sampras harus mengusir merpati dari garis baseline,” kata Donna.
Editor: Aspian Nur