Kecelakaan di jalan raya itu terjadi sekitar pukul 23:00 waktu setempat (20:00 Waktu Indonesia), seperti dikutip oleh kantor berita AFP. Polisi mengatakan Kiptum adalah pengemudinya dan kendaraan tersebut kehilangan kendali dan terguling, menewaskan keduanya di tempat. Penumpang ketiga - yang berjenis kelamin perempuan - mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit.
Kiptum membuat terobosan pada tahun 2023 sebagai saingan bagi rekan senegaranya Eliud Kipchoge, pelari maraton terhebat Kenya.
Dan di Chicago pada Oktober lalu, Kiptum berhasil menyamai pencapaian Kipchoge, dengan mencatatkan waktu 26,1 mil (42 km) dalam waktu dua jam dan 35 detik. Kedua atlet ini telah masuk dalam tim maraton sementara Kenya untuk Olimpiade Paris akhir tahun ini. "Sangat menyedihkan!! Kenya telah kehilangan permata yang istimewa. Kehilangan kata-kata." Tulis Menteri Olahraga Kenya Ababu Namwamba di media sosial Twitter.
Pemimpin oposisi dan mantan perdana menteri Kenya Raila Odinga mengatakan negaranya telah kehilangan seorang pahlawan sejati dan berkabung.
Sebastian Coe, presiden World Athletics, mengatakan Kiptum adalah atlet yang luar biasa dan meninggalkan warisan yang luar biasa. “Kami akan sangat merindukannya," ujarnya.
Baru minggu lalu, timnya mengumumkan Kiptim akan mencoba untuk berlari dalam waktu kurang dari dua jam di maraton Rotterdam - sebuah prestasi yang belum pernah dicapai dalam kompetisi terbuka.
Popularitas ayah dua anak ini begitu cepat - ia baru berlari maraton penuh pertamanya pada tahun 2022, berkompetisi di kompetisi besar pertamanya empat tahun sebelumnya dengan menggunakan sepatu pinjaman karena dia tidak mampu membeli sepatu sendiri.
Dia termasuk di antara generasi baru atlet Kenya yang memulai karier mereka di jalan raya, melepaskan diri dari tradisi masa lalu di mana para atlet memulai karier mereka di lintasan lari sebelum beralih ke jarak yang lebih jauh.
Kiptum mengatakan kepada BBC tahun lalu pilihannya yang tidak biasa ini ditentukan oleh kurangnya sumber daya. "Saya tidak punya uang untuk melakukan perjalanan ke sesi trek," jelasnya.
Pelatihnya Hakizimana yang berusia 36 tahun adalah seorang pensiunan pelari asal Rwanda. Tahun lalu, ia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membantu Kiptum menargetkan rekor dunia.
Hubungan mereka sebagai pelatih dan atlet dimulai pada tahun 2018, tetapi keduanya pertama kali bertemu saat sang pemegang rekor dunia masih jauh lebih muda. "Saya mengenalnya saat ia masih kecil, menggembala ternak tanpa alas kaki," kenang Hakizimana tahun lalu. "Saat itu pada tahun 2009, saya berlatih di dekat peternakan milik ayahnya, ia datang menendang tumit saya dan saya mengusirnya. Sekarang, saya berterima kasih kepadanya atas pencapaiannya," ujarnya saat itu.
Editor: Aspian Nur