Francis Ngannou dengan pengalaman bertinju yang minim pada pertarungan diwarnai kontroversi ini sempat merobohkan Tyson Fury namun akhirnya dinyatakan kalah angka dari juara WBC yang melakoni pertandingan ke-35 kalinya itu di atas ring tinju profesional.
Fury meraih kemenangan angka terbelah (split decision) yang kontroversial setelah Ngannou yang berusia 37 tahun dari negara Kamerun-Prancis itu menjatuhkan Fury ke atas kanvas pada ronde ketiga lewat sebuah hook kiri.
Satu juri memberi nilai 95-94 untuk kemenangan Ngannou, sementara dua juri memberi nilai 96-93 dan 95-94 untuk Fury. "Itu jelas tidak ada dalam naskah," kata Fury kepada TNT Sports usai pertandingan terkait jatuhnya dirinya diatas ring.
"Saya terkena pukulan di bagian belakang kepala [untuk knockdown]. Saya tidak terluka. Saya bangkit dan kembali bertinju. Ia adalah pria yang tidak canggung dan pemukul yang baik dan saya sangat menghormatinya. Ia memberi saya salah satu pertarungan terberat dalam 10 tahun terakhir," ungkap petinju dari London, Inggris itu.
FUry baru merasakan kekuatan Ngannou pada ronde kedua, saat sebuah luka terbuka di dahi petinju berjulukan The Gypsi King itu saat ia menerima sebuah hook kiri. Fury terlihat tidak siap hingga terjatuh ke atas kanvas pada ronde ketiga saat ia menerima pukulan yang sama di belakang telinga kanannya.
Mungkin masih merasakan dampak dari pukulan tersebut, ia kesulitan menemukan ritmenya hingga ronde kelima saat ia menangkap Ngannou dengan kombinasi straight satu-dua.
Setelah mendapat perlawanan singkat dari Fury saat ia mulai bertinju dari jarak jauh dan sukses dengan jab-nya, Ngannou kembali mendaratkan beberapa pukulan keras pada ronde-ronde terakhir.
Tampaknya kartu penilaian berpihak pada Fury dan ia terlihat putus asa saat menerjang maju pada ronde ketujuh, meleset dari Ngannou dan jatuh berlutut - yang dianggap sebagai sebuah slip dan bukan knockdown.
Ngannou bertinju dengan sangat cerdas saat ia mampu menutup jarak, menggunakan kemampuan MMA-nya untuk masuk ke dalam posisi clinch dan mendaratkan serangan ke arah tubuh dan kepala.
Wajah Fury terlihat terluka saat bel akhir pertandingan berbunyi dan pojok ring Ngannou mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dengan harapan ia akan memberikan kejutan terbesar dalam dunia tinju.
Namun hasil akhir pertandingan secara kontroversial berpihak pada petinju berpengalaman ini, yang memenangkan sabuk juara di Riyadh dan memperpanjang rekor tak terkalahkannya menjadi 35 kali - menang 34 kali dan seri satu kali.
"Pemusatan latihan saya hanya tiga setengah bulan dan saya datang dengan cedera," kata Ngannou. "Namun saya tidak ingin mencari-cari alasan. Saya akan melihat apa yang bisa saya lakukan selanjutnya untuk meningkatkan permainan saya untuk kembali lebih baik lagi," ujarnya lagi.
Kemenangan Fury berarti pertarungan blockbuster dengan sesama juara kelas berat Oleksandr Usyk, yang memegang gelar WBA, WBO dan IBF yang telah ditandatangani, masih akan berlangsung pada 23 Desember mendatang.
Pertarungan di Riyadh diadakan di ring yang terpisah dan di arena yang berdekatan dengan pertandingan undercard lainnya.
Pertandingan undercard berlangsung di sebuah arena kecil di luar ruangan dan diakhiri dengan perebutan gelar juara kelas berat Inggris saat Fabio Wardley mempertahankan sabuknya melawan David Adeleye.
Editor: Aspian Nur