Cavendish, pembalap berusia 38 tahun itu mengalami patah tulang selangka dalam sebuah kecelakaan yang sebenarnya terlihat tidak berbahaya sekitar 60 km dari akhir etape delapan dari Libourne ke Limoges, kecelakaan yang membuatnya harus pensiun dengan rekor 34 kemenangan, menyamai rekor legenda Belgia, Eddy Merckx.
"Ini adalah hari yang emosional, dia sangat sedih setelah terjatuh," kata Direktur balap Christian Prudhomme.
Cavendish mengumumkan pada bulan Mei ia akan pensiun di akhir musim atau setelah balapan ini berakhir. "Dia pembalap terbaik dalam sejarah Tour de France dan dia ingin mencoba memenangkan etape ke-35," tambah Prudhomme. "Dia sedih, kami sedih, Tour de France sedih," imbuhnya.
Setelah absen di Tour tahun lalu, Cavendish memasuki balapan tahun ini dengan tujuan untuk mengambil alih rekor kemenangan etape. Pembalap dari tim Astana Qazaqstan ini hampir saja melakukannya dua hari lalu, namun masalah pada girnya membuat Jasper Philipsen berhasil menyalipnya.
Cavendish sangat kecewa dengan hal tersebut karsena hanya dalam waktu 24 jam, balapannya berakhir. Ia terjatuh setelah bersenggolan dengan Pello Bilbao dan ditolong ke ambulans dan dibawa ke rumah sakit di Perigueux.
"Semua orang di tim terluka," kata Mark Renshaw, yang merupakan pembalap cadangan Cavendish dari 2009-2011 dan 2016 dan bergabung dengan Astana sebagai penasihat sprint sebelum Tour. "Saya tidak akan berbohong, saya menangis."
Cavendish memulai debutnya di Tour pada tahun 2007 dan telah gagal menyelesaikan tujuh dari 14 penampilannya.
Mads Pedersen, yang memenangkan etape kemarin mengatakan sangat menyenangkan bisa bersepeda dengan Cavendish. "Saya selalu memiliki hubungan yang baik dengannya. Sangat menyedihkan bagi seorang legenda untuk menyelesaikan Tour seperti ini," sebut Pedersen.
Editor: Aspian Nur