“Sebuah kehormatan bagi saya untuk berada di samping Sir Alex Ferguson. Saya mendapat pesan darinya pagi ini (sebelum pertandingan). Pesan itu menyentuh saya. Sangat menyenangka,” kata Guardiola tanpa mengungkapkan apa pesan dari Fergie.
Pelatih asal Spanyol berusia 52 tahun ini melengkapi koleksinya di City saat rekan senegaranya, Rodri, mencetak satu-satunya gol di menit ke-68.
Guardiola kini setara dengan Alex Ferguson, yang tim Manchester United-nya juga meraih Treble Premier League, Piala FA dan Liga Champions pada tahun 1999. Guardiola juga memberikan 12 trofi utama untuk City.
Hanya saja laga melawan Inter tak mudah, karena City dibuat menderita bahkan mengancam memperpanjang penantian City untuk meraih trofi yang sudah lama didambakan oleh sang pemilik, Sheikh Mansour, sejak membeli klub tersebut pada tahun 2008.
“Lelah. Tenang. Puas. Sangat sulit untuk memenangkannya," ujar Guardiola yang emosional setelah memeluk setiap pemain dan jajaran klub.
“Inter sangat bagus. Bersabarlah, saya katakan saat turun minum. Anda harus beruntung. Kompetisi ini seperti sebuah lemparan koin. Itu sudah tertulis di bintang-bintang dan sekarang milik kami,” ujarnya.
Tim asuhan Guardiola, yang tiba di final dengan hanya satu kekalahan dalam 27 pertandingan terakhir mereka di semua kompetisi, masih jauh dari penampilan terbaik meskipun pujian harus diberikan kepada tim Nerazzurri yang mengeksekusi rencana permainan mereka dan mengganggu ritme permainan City.
City juga harus memulihkan diri saat kehilangan sang playmaker Kevin De Bruyne yang mengalami cedera pada babak pertama, sementara Erling Haaland pencetak 52 gol musim ini tampil tidak terlalu mengancam.
“Kami tidak berada di level terbaik kami. Setelah Piala Dunia, tim membuat sebuah langkah maju dan kami berada di sana. Itu bukanlah penampilan terbaik kami," ujar Guardiola.
Bagi Guardiola, gelar ini mengukuhkan statusnya sebagai salah satu manajer terbaik saat ia menambahkan gelar Liga Champions ketiga setelah dua gelar yang ia raih di Barcelona, yang terakhir diraihnya pada tahun 2011.
Liga Champions telah membawa penderitaan bagi City dan Guardiola terutama saat mereka kalah dari rival Liga Primer Chelsea di final 2021 - tetapi semua rasa sakit itu hilang tepat di Istanbul.
Sang pelatih asal Catalan, yang memenangkan Liga Champions bersama Barcelona pada tahun 2009 dan 2011, kini akan menjadi sosok ikonik di City dan juga Barcelona.
Ini adalah fakta sederhana bahwa banyak orang di luar klub yang dimiliki oleh Abu Dhabi akan selalu melihat kemenangan mereka melalui sudut pandang tuduhan 115 pelanggaran keuangan yang dituduhkan kepada mereka oleh Liga Primer, tuduhan yang mereka bantah dengan keras.
Perayaan di peluit akhir mencerminkan musim yang luar biasa saat City akhirnya berhasil meraih trofi Liga Champions dan bersiap untuk mengaraknya di jalanan kota Manchester bersama dengan Liga Primer dan Piala FA Senin (12/6/2023) besok.
Editor: Aspian Nur