Keberhasilan ini membuat Djokovic merengkuh gelar grand slam ke-22 sepanjang karirnya dan menyamakan rekor Nadal, sekaligus gelar juara ke-10 pada final ke-10 Australia Open. Petenis dunia lainnya, Roger Federer masih tertahan di angka 20.
Djokovic pun menyebut jika keberhasilannya tersebut sangat besar. Hal itu jika mengingat dia terlibat drama mengenai kondisi vaksinasinya sehingga harus dideportasi keluar dari Australia.
“Ini merupakan turnamen paling menantang dalam karier saya. Apalagi jika mengingat apa yang terjadi tahun lalu,” kata Djokovic dikutip Eurosport.
Keadaan tersebut pun membuat Djokovic menyebut jika kemenangannya ini merupakan kesuksesan terbesar dalam hidupnya. Karena dia mampu kembali juara, setelah melewati rintangan. “Ini adalah alasan saya memainkan permainan tenis di Australia,” imbuhnya.
“Hanya tim dan keluarga saya yang tahu apa yang telah kami lalui selama empat atau lima pekan terakhir ini. Ini mungkin merupakan kemenangan terbesar dalam hidup saya, mengingat situasinya," kata Djokovic lagi.
Di akhir pertandingan, petenis Serbia ini menunjuk kepala dan jantung lalu menjelaskan: "Dibutuhkan hati yang besar, tentu saja kekuatan mental yang besar dan ketiga hal tersebut untuk bisa melakukannya,” ungkapnya.
Djokovic Kembali ke posisi nomor satu dunia, meskipun ia telah memainkan lebih sedikit turnamen dibandingkan para pesaingnya karena penolakannya untuk divaksinasi. "Setelah acara tahun lalu, datang ke Australia tahun ini saya sangat gugup dan tidak tahu bagaimana saya akan diterima," ungkapnya.
Tidak pernah Djokovic menunjukkan emosi yang begitu besar di depan umum seperti pada saat-saat setelah kemenangan karena dia menyampaikan semua dengan air mata. "Anda tidak merencanakan hal-hal ini," katanya. "Pertandingan itu begitu dekat, saya tahu dia (Tsitsipas) tidak keberatan untuk melangkah lebih jauh. Saya menangis karena saya merasakan, itu sangat melegakan,” pungkasnya.
Tsitsipas berkata: 'Novak adalah pemain yang mendorong Anda hingga ke batas kemampuan Anda. Saya tidak melihat ini sebagai kutukan. Ia telah membuat saya menjadi pemain yang jauh lebih baik. Mendapat pukulan dari belakang adalah pelajaran yang sangat bagus setiap saat.
Sementara Tsitsipas yang mendapat dukungan dari para penonton dan penggemarnya sendiri gagal karena kalah dalam permainan dan membuat terlalu banyak kesalahan.
“Novak adalah pemain yang mendorong saya sampai ke batas kemampuan terakhir. Saya tidak melihat ini sebagai kutukan. Dia membuat saya menjadi pemain yang jauh lebih baik. Mendapat pukulan dari belakang adalah pelajaran yang sangat bagus setiap saat,” kata Tsitsipas.
Editor: Aspian Nur