Pebalap dengan tujuh gelar juara F1 ini diketahui yang merupakan satu-satunya pembalap kulit hitam di F1 dan menyebut masa-masa sekolahnya sebagai masa yang paling traumatis.
"Bagi saya, sekolah mungkin adalah bagian paling traumatis dan paling sulit dalam hidup saya," kata Hamilton dalam sebuah wawancara untuk podcast On Purpose dilansir dari apnews.com Selasa (24/1/2023) hari ini. "Saya sudah dirundung (di-bully) pada usia 6 tahun. Saya mungkin satu dari tiga anak kulit berwarna hitam dan hanya anak-anak yang lebih besar dan lebih kuat sering merundung saya," ujarnya
Lahir dan dididik di Stevenage, Inggris, Hamilton menggambarkan bagaimana pelecehan rasial terus berlanjut selama masa sekolahnya, bersama dengan isolasi dan kebingungan yang ia rasakan.
"Saya terus mendapat ejekan, barang-barang dilemparkan kepada saya seperti pisang, orang-orang yang menggunakan kata N (negro) dengan begitu santai. Orang-orang menyebut saya setengah kasta dan benar-benar tidak tahu di mana saya berada," kata pria berusia 38 tahun ini dalam acara podcast tersebut.
"Bagi saya itu sulit, dan kemudian ketika saya masuk ke kelas sejarah dan semua yang dipelajari dalam sejarah, tidak ada orang kulit berwarna dalam sejarah yang mereka ajarkan. Jadi saya berpikir dimana orang-orang yang mirip dengan saya?" paparnya.
"Hanya ada sekitar enam atau tujuh anak kulit hitam dari 1.200 murid dan tiga dari kami ditempatkan di luar kantor kepala sekolah sepanjang waktu," ucap Hamilton.
"Saya ditempatkan dikelas paling bawah di sekolah dan diberitahu kalau bekerja dengan baik bisa naik kelas. Mereka tidak pernah membiarkan saya maju, tidak peduli seberapa keras saya berusaha," tambah Hamilton. "Saya benar-benar merasa sistem itu melawan saya dan saya berenang melawan arus," jelasnya
Hamilton mengatakan dirinya merasakan pahitnya dikucilkan, bahkan pada saat-saat rekreasi.
"Saya selalu menjadi orang terakhir yang dipilih saat berdiri dalam antrean. Saya selalu menjadi orang terakhir yang dipilih atau bahkan tidak dipilih. Bahkan jika saya lebih baik dari orang lain. Hanya menyulap semua emosi yang saya rasakan, ditambah lagi saya berjuang di sekolah. Saya baru tahu pada usia 16 tahun saya menderita disleksia," ungkapnya
Hamilton menggambarkan bagaimana ia memendam rasa sakitnya dan memasang wajah berani ketika ia tiba di rumah. "Ada banyak hal yang saya pendam. Saya tidak merasa bisa pulang ke rumah dan memberi tahu orangtua saya kalau saya dipanggil N. Saya dirundung, dipukuli di sekolah tapi tidak bisa membela diri," katanya.
Hamilton adalah pemegang rekor F1 dengan 103 kemenangan Grand Prix dan 103 pole position dan berbagi rekor untuk gelar F1 terbanyak dengan sesama pembalap hebat seperti Michael Schumacher.
Bintang Mercedes yang tidak memenangkan Grand Prix musim lalu memulai usahanya untuk meraih gelar F1 kedelapan saat musim dimulai di Bahrain pada 5 Maret mendatang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Hamilton telah membedakan dirinya di luar lintasan, berkampanye tanpa lelah untuk memerangi rasisme dan mendesak orang lain di F1 untuk lebih banyak bersuara.
Hamilton membentuk The Hamilton Commission untuk meningkatkan keberagaman F1, dan juga vokal dalam menyuarakan pelanggaran hak asasi manusia di negara-negara di mana F1 berlangsung.
Tahun lalu, Hamilton mengatakan pola pikir kuno harus diubah setelah pensiunan F1 yang juga juara dunia Nelson Piquet dilaporkan menggunakan penghinaan rasial terhadapnya.
Editor: Aspian Nur