Martin diketahui jadi satu-satunya pesepakbola pria yang secara terbuka mengungkap jati diri sebagai gay. "Saya tidak tahu seberapa besar masalah yang akan keluar. Ada banyak kecemasan dan sejujurnya, saya takut melihat bagaimana banyak penggemar dan reaksi pemain lain di tim lain saat saya mengungkapkan hal ini,” kata Martin dilansir dari laman Thesun.co.uk Selasa (26/7/2022) hari ini. "Saya tidak begitu yakin apa reaksi mereka yang mengetahui ini, tetapi saya tahu jauh di lubuk hati, pada tingkat pribadi, saya harus siap menerima resikonya," ucapnya lagi
Martin, gelandang tangguh yang dibesarkan di Chevy Chase, ML adalah mantan pemain internasional United States Men's National Soccer Team (USMNT) U-20.
Keinginannya memperkuat timnas Amerika Serikat untuk berlaga di Piala Dunia 2022 Qatar pada November mendatang terhalang aturan tuan rumah yang tidak memperbolehkan pemain gay bertanding di negara tersebut dimana ancaman tujuh tahun menanti kalau terbukti melakukan hubungan sejenis. USMNT sendiri tergabung di Grup B pada Piala Dunia 2022 mendatang bersama Inggris, Iran dan Wales.
Sebelumnya bos FIFA Giani Infantino bersikeras semua diterima di Qatar, tetapi para kritikus telah mengecam catatan hak asasi manusia negara itu dan kurangnya akses untuk bebas berbicara.
Saat ini Martin belum mendapatkan konfirmasi apakah bisa membela USMNT atau tidak, yang pasti dirinya siap berangkat ke Qatar jika dipanggil - tidak hanya untuk menyatukan, tetapi untuk menunjukkan dia bangga dengan siapa dia.
"Saya pasti akan pergi ke Piala Dunia jika saya dipanggil. Jelas, itu hipotetis yang ekstrem, tetapi itu akan menjadi suatu kehormatan. Saya akan mencoba menghormati komunitas dengan cara tertentu terutama komunitas gay dan saya akan melakukannya dengan hormat,” paparnya. "Saya memastikan diketahui seorang pemain gay berpartisipasi di Piala Dunia dan tidak ada masalah dengan itu dan bahwa saya perlu dihormati,” ujarnya.
Pada tahun 2020, Qatar meyakinkan siapa saja boleh dating datang termasuk LGBTQIA+ dan mereka bebas mengibarkan bendera pelangi di pertandingan. Tetapi Martin ingin menekankan bahwa masalah hak asasi manusia di "berbagai tingkatan" bagi warga negara itu perlu ditangani.
"Saya pikir bukan hanya komunitas gay yang peduli dengan negara tuan rumah yang menerima dan saya pikir ada banyak masalah berbeda yang muncul dari penyelenggaraan Piala Dunia di Qatar. Ada pertanyaan hak asasi manusia diberbagai tingkatan dan hak-hak perempuan dan bagaimana negara memandang dan menerima perempuan,” sebutnya.
"Jelas dalam kasus saya ada beberapa kekhawatiran dan hanya masalah keamanan yang tulus seperti 'apakah saya akan diizinkan bermain di negara ini jika saya berada di Piala Dunia? Apakah saya akan diterima? Pelecehan seperti apa yang akan saya dapatkan dari penggemar di stadion?,” ucap Martin. "Ini adalah olahraga untuk semua orang dan harus dinikmati," tegasnya.
Sejak mengumumkan diri sebagai gay, hanya sedikit pemain yang mengikuti jejak Martin karena merasa cukup nyaman untuk tak mengungkapkan jati diri sesungguhnya.
Tetapi pemain asli Maryland itu senang ketika bintang Blackpool berusia 17 tahun Jake Daniels menjadi pesepakbola Inggris pertama yang secara terbuka menyatakan diri sebagai gay sejak 1990. "Melihat seorang pemain muda di Inggris mengungkapkan hal rahasia tentang dirinya itu luar biasa. Jake masih berusia 17 tahun dan memiliki keberanian untuk berbagi itu dengan dunia benar-benar di luar kepercayaan," ujar Collin.
Penelitian dari BonusFinder menemukan fakta lebih dari 40 persen penggemar percaya pemain sepakbola harus "menyembunyikan seksualitas mereka”. Satu dari lima orang Amerika yang menanggapi survei menunjukkan mereka akan berhenti mendukung tim mereka jika ada pemain LGBTQIA+ di dalam tim mereka.
Collin Martin sendiri sudah bermitra dengan BonusFinder dan LGBT HERO untuk memahami representasi dan sikap terhadap komunitas LGBTQIA+ dalam olahraga tim profesional AS.
Editor: Aspian Nur