Ketua tim review Peningkatan Prestasi Olahraga Nasional Kementerian Pemuda dan Olahraga (PPON Kemenpora) Prof Dr Moch Asmawi menjelaskan hal ini.
Menurutnya, keputusan tersebut merupakan hasil review dari tim yang terdiri dari para akademisi dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan sejumlah perguruan tinggi lainnya, praktisi olahraga, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI).
Tim review melakukan wawancara dengan pelatih, manajer dan pengurus cabang olahraga serta melihat track record prestasi cabang olahraga tersebut di ajang-ajang olahraga terakhir yang diikuti baik single event maupun multi event.
Tentunya SEA Games ini adalah sasaran antara untuk menuju ke Olimpiade sasarannya adalah persiapan menuju babak kualifikasi olimpiade tahun 2024 di Paris, sasaran antara juga persiapan menuju Asian Games 2022 Cina dari hasil analisa tim kami tim review ya yang terdiri dari akademisi, praktisi perwakilan dari NOC juga ada perwakilan dari koni pusat lengkap baik.
“Kami menetapkan cabang olahraga itu berdasarkan hasil review. Review itu tidak hanya kami wawancara dengan cabang-cabang olahraga, tetapi kami juga mempunyai data dan mempunyai track record. Data itu multi event yang terakhir diikuti kalau enggak begitu kita juga melihat track recordnya di kejuaraan resmi,” kata dilansir dari laman kemenpora.go.id Jumat (8/4/2022) hari ini.
Pemerintah melalui Kemenpora telah menetapkan Olimpiade sebagai sasaran utama dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) sementara SEA Games hanya sasaran antara menuju Asian Games dan Olimpiade sehingga kategori pertama cabang olahraga yang dikirim ke SEA Games yaitu 14 cabang olahraga yang masuk dalam DBON minus satu cabang olahraga karena tidak dipertandingkan pada SEA Games 2021 ini.
“Kurang lebih ada 14 cabang olahraga dalam DBON, tentunya yang nantinya mempunyai kans untuk meraih medali emas, perak dan perunggu, 14 cabang olahraga ini kami sudah mempunyai analisa prestasi semuanya,” sebut Asmawi.
Ke-13 cabang olahraga yang atletnya akan berjuang membawa nama Merah Putih tersebut berasal dari cabang olahraga angkat besi, atletik, balap sepeda, bulu tangkis, dayung (kano/kayak-perahu naga), rowing, karate, menembak, panahan, pencak silat, renang, senam, taekwondo dan wushu.
Kedua, yakni cabang olahraga yang tidak masuk dalam DBON. Namun dinilai memiliki potensi meraih medali dengan jumlah 18 cabang olahraga. “Ada 18 cabang olahraga yang non DBON. Namun ada potensi emas dan perak jadi kami berangkatkan. Kami tidak langsung menyetujui itu, karena kami mreview lagi dengan tim review baik itu review dengan tim DBON atau tim dari Kemenpora maupun review dengan tim yang ada di NOC atau KOI,” ujarnya.
Adapun 18 cabang olahraga non DBON ini antara lain tinju, voli indoor, voli pantai, boling, catur, jujitsu, judo, tenis, triatlon, sepak takraw, kick boxing, sepakbola, E-Sport, anggar, basket, gulat, selam, vovinam dan golf.
Sementara itu, Asmawi menjelaskan ada14 cabor dalam SEA Games Hanoi 2021 Indonesia tidak berpartisipasi atau tidak kirim atletnya karena hasil review dinilai tidak memiliki potensi prestasi atau medali.
“Kami tidak berangkatkan karena tidak mempunyai jejak prestasi dan tidak berpeluang meraih medali pada SEA Games 2021 yang akan datang. Itu adalah pesan dari pemerintah yang tidak bisa ditawar, kenapa karena hulunya adalah olimpiade,” tegasnya.
Adapun 14 cabang olahraga tersebut adalah bola tangan indoor, bola tangan pantai, dansa, petanque, kurash, futsal, biliar, tenis meja, muaythai, xiangqi, loncat indah, senam ritmik, senam aerobik, binaraga dan sepakbola putri. “Kami sudah mengantongi itu, data yang nomor satu yang kami punyai,” tegasnya.
Meskipun menjadi sasaran antara dan atlet yang dikirim tidak sebanyak saat SEA Games 2019 di Manila Filipina, Asmawi dan tim review memiliki harapan agar kontingen Indonesia pada SEA Games 2021 ini menjadi juara umum di cabang olahraga masing-masing.
Dari 31 cabang olahraga yang sudah ditetapkan diperkuat total 738 orang, terdiri dari 476 atlet dan pelatih, 207 ofisial serta 55 tenaga pendukung.
Editor: Aspian Nur