Hukuman mati yang diberikan kepada Javad yang kesekian kalinya terhadap atlet, setelah tahun 2020 pegulat juara Navid Afkari yang berusia 27, sudah terlebih dahulu dieksekusi diatas tiang gantungan di Shiraz pada September 2020.
Dilansir Korankaltim.com dari Thesun.co.uk Kamis (20/1/2022) hari ini, Afkari dituduh membunuh seorang penjaga keamanan negara selama protes anti-pemerintah pada musim panas 2018.
Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA), Navid dan saudaranya Vahid Afkari disiksa dengan kejam untuk memberikan pengakuan.
Jurnalis dan aktivis Masih Alinejad yang meluncurkan gerakan #United4Navid. “Hukuman mati untuk atlet lain di Iran karena kejahatan memprotes pada November 2019. Mohammad Javad adalah seorang juara tinju. Mereka menjatuhkan hukuman mati padanya karena protes ke pemerintah,” tulis HRNA.
"Kami tidak bisa menyelamatkan pegulat Iran Navid Afkari. Sebelum dieksekusi Navid berkata “Republik Islam sedang mencari leher untuk mengikat tali” dan ternyata sekarang Javad yang harus mengalaminya,” imbuh mereka.
Para ahli mencatat tudingan kalau pemerintah di Iran menyebarkan korupsi di Bumi sering digunakan terhadap pemrotes untuk menghilangkan oposisi terhadap pemimpin tertinggi rezim di negara Iran, Ali Khamenei.
Setelah kematian Afkari, dua atlet lainnya sudah dieksekusi, yaitu petinju Ali Mutairi berusia 30 tahun yang dilaporkan disiksa dengan kejam di Penjara Sheiban setelah mendengar pengakuan palsunya yang mengatakan dia telah membunuh dua anggota milisi Basij pada tahun 2018.
Setelahnya ada juara pegulat Mehdi Ali Hosseini juga dieksekusi tahun lalu. Angka menunjukkan Iran melakukan sekitar 250 eksekusi per tahun ditambah 100 eksekusi terhadap anak-anak.
Sistem hukuman biadab di negara itu yaitu digantung dari crane di depan umum, penggunaan kejutan listrik yang mengerikan dan dicambuk.
Editor: Aspian Nur