Rabu (6/1/2022) dua hari lalu Djokovic sudah terbang ke Australia dari negaranya Serbia untuk mengikuti turnamen tersebut, namun saat dibandara tak diperbolehkan melanjutkan perjalanan ke hotel tempat menginap karena visa yang digunakannya ternyata menyalahi aturan terkait vaksinasi dimana Djokovic diketahui sebagai anti vaksinasi, hal mana yang membuatnya sempat terserang Covid-19 bersama sang istri, Jelena Ristic.
Djokovic sebelumnya sempat mendapat lampu hijau untuk tetap bertanding di Australia Open, namun peraturan ketat dari pemerintah membuatnya mau tak mau harus gagal bertanding.
Visa Djokovic ditolak dan saat ini harus dikarantina di sebuah hotel di Melbourne sembari menunggu waktu untuk menantang keputusan pemerintah Australia agar mengeluarkannya dari negara itu di pengadilan Senin (10/1/2022) nanti.
Jelena pun mengeluarkan pernyataan lewat media social Twitter terkait apa yang menimpa suaminya.
“Harapan saya adalah agar semua orang sehat, bahagia, aman dan bersama keluarga. Terima kasih orang-orang terkasih diseluruh dunia karena menggunakan suara Anda untuk mengirim cinta kepada suami saya. Saya mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan menemukan rasa syukur (dan pengertian) pada saat ini untuk semua yang terjadi," tulis Jelena dilansir dari laman Dailymail Jumat (7/1/2022) hari ini.
“Satu-satunya hukum yang harus kita hormati saat ini adalah cinta dan rasa hormat terhadap manusia lain. Cinta dan pengampunan tidak pernah menjadi kesalahan tetapi kekuatan yang kuat,” tegasnya.
Sebelumnya, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengungkapkan visa Djokovic tidak diterima tidak memenuhi persyaratan masuk ke negara mereka.
Djokovic ditempatkan di hotel penahanan imigrasi Melbourne bersama para pengungsi, tetapi Menteri Dalam Negeri Karen Andrews menegaskan pria 34 tahun itu bisa pergi jika mau.
“Mr Djokovic tidak ditahan di Australia, dia bebas untuk pergi kapan saja dia memilih untuk melakukannya dan akan difasilitasi untuk itu,” kata Karen.
Ayah sang petenis, Srdjan Djokovic, mengatakan kalau putranya adalah korban dari “perburuan penyihir politik” dan “fasisme korona” dan harus dibebaskan.
“Djokovic “memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk masuk dan berpartisipasi di turnamen yang pasti akan ia menangkan,” tegas Srdjan. “Mereka menahannya, sama halnya seperti menginjak-injak seluruh Serbia dan orang-orang Serbia,” tegas Srdjan.
Tim hukum Djokovic membawa masalah ini ke Pengadilan Federal Australia dalam upaya agar keputusan menahan Djokovic segera dibatalkan.
Editor: Aspian Nur