Namun saat tiba di Bandara Tullamarine, Melbourne dari Dubai Rabu (5/1/2022) petang kemarin waktu setempat, Djokovic dilarang melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat dia akan menginap dan ditahan sementara di bandara, dimasukkan dalam sebuah kamar dijaga ketat dua polisi.
Djokovic sempat terkatung-katung karena harus menunggu keputusan pemerintah Australia apakah bakal meloloskan dispensasi kewajiban vaksin yang berlaku atau mengirimnya pulang karena visa masuk yang dibawanya tidak sesuai.
Diketahui Djokovic merupakan olahragwan yang menolak di vaksin saat Covid-19 mewabah di dunia.
“Djokovic gagal memberikan bukti untuk memenuhi persyaratan masuk ke Australia dan visanya kemudian dibatalkan,” kata Pasukan Perbatasan Australia.
Non-warga negara yang visanya dibatalkan sesuai peraturan akan ditahan dan dikeluarkan dari Australia.
Djokovic yang sempat ditahan di bandara selama lebih dari delapan jam langsung mengeluarkan banding atas putusan tersebut meski dirinya tetap tak bisa menghindar dari pemaksaan untuk dideportasi hari ini.
Djokovic mendapat banyak kritik karena diberikan dispensasi untuk berlaga di Australian Open 2022 kendati belum mendapat vaksin Covid-19.
Djokovic sempat positif Covid-19 pada Juni 2020 setelah bermain dalam serangkaian pertandingan eksibisi yang diselenggarakan di Serbia dan Kroasia tanpa menjaga jarak di tengah pandemi.
Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan Djokovic tidak memiliki pengecualian untuk mengunjungi negara itu meski sempat mendapat hak istimewa.
Morrison berterima kasih kepada petugas Pasukan Perbatasan karena sudah melakukan pekerjaan mereka menerapkan kebijakan pemerintah dan mencatat siapa saja yang masuk ke Australia harus vaksin dua kali atau pengecualian medis.
"Saya diberitahu pengecualian seperti itu tidak berlaku dan sebagai akibatnya dia (Djokovic) harus tunduk pada aturan yang sama seperti orang lain," kata Morrison kepada wartawan.
“Saya juga ingin menekankan pada akhirnya ini adalah tanggung jawab mereka yang dating dari mana saja. Pelancong harus dapat menegaskan dan mencadangkan kemampuan mereka untuk datang ke negara tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku. Ini bukan tentang satu individu, ini hanya masalah mengikuti aturan dan proses itu akan berjalan sebagaimana mestinya,” papar Morrison.
Selain berbicara langsung, Morisson juga mengeluarkan pernyataan di media social Twitter. “Visa Djokovic telah dibatalkan. Aturan adalah aturan, terutama jika menyangkut perbatasan kami. Tidak ada seorang pun di atas aturan ini. Kebijakan perbatasan kami yang kuat sangat penting bagi Australia yang memiliki tingkat kematian terendah akibat Covid. Kami terus waspada,” tulisnya.
Ayah Djokovic, Srdjan menuduh pihak berwenang Australia menahan anaknya sebelum keputusan akhirnya dibuat.
Bahkan Presiden Serbia Aleksandar Vucic ikut marah, menelepon petenis yang popular di negaranya itu untuk mengungkapkan solidaritasnya.
“Saya baru saja menyudahi pembicaraan telepon dengan Novak Djokovic. Saya bilang kepada Novak seluruh warga Serbia bersamanya dan lembaga kami melakukan segalanya untuk menyudahi tindakan mempermalukan terhadap petenis terbaik dunia ini," tulis Presiden Vucic dalam unggahan yang menyematkan foto Djokovic.
"Serbia akan bertarung untuk Novak, kebenaran dan keadilan. Novak seseorang yang kuat, seperti kita semua tahu," tulisnya lagi.
Media-media Serbia melaporkan bahwa Vucic bahkan telah memanggil Duta Besar Australia di Belgrade dan menuntut agar Djokovic diizinkan bermain.
Djokovic yang berusia 34 tahun berangkat ke Australia untuk mencari rekor gelar Grand Slam ke-21 dan mulai menghadapi masalah saat masih berada di udara alias di dalam pesawat antara Dubai dan Melbourne.
Saat itu ditemukan ketidaksesuaian antara visa yang dibawa dan dokumentasi yang telah disediakan untuk mendukung kasusnya karena tidak divaksinasi.
Penerbangannya mendarat di Melbourne tak lama setelah jam 11 malam dan dia dibawa ke kamar sendiri. Sang ayah memberikan penjelasan tentang kondisi penahanan anaknya kepada penyiar Beograd B92
“Novak saat ini berada di sebuah ruangan yang tidak dapat dimasuki siapa pun. Di depan ruangan ada dua polisi,” ungkapnya.
Sementara pelatih Djokovic Goran Ivanisevic menjelaskan situasi yang terjadi lewat media sosial.
Ia berpose bersama fisioterapis Ulises Badio yang sedang duduk di ruang tunggu bandara sekitar pukul 04.00 waktu setempat dengan keterangan: "Bukan perjalanan yang paling biasa di Down Under."
Djokovic adalah juara bertahan Australia Terbuka dengan sembilan trofi, terbanyak diantara pemain manapun.
Keberhasilan kesepuluh tahun ini akan menjadi gelar Grand Slam ke-21, melampaui rekor 20 yang saat ini dipegangnya bersama dengan Roger Federer dan Rafael Nadal.
Nadal sendiri mengeluarkan pernyataan terkait apa yang dialami Djokovic. "Kalau boleh memilih tentu saja saya ingin bermain tanpa masalah di Australia," kata Nadal. “Dia (Djokovic) telah membuat keputusannya sendiri dan setiap orang bebas membuat keputusannya sendiri, tetapi kemudian ada konsekuensinya," imbuhnya.
Diakui petenis Spanyol ini, dirinya kasihan dengan apa yang terjadi dengan Djokovic. "Dia tahu kondisinya selama berbulan-bulan, jadi dia telah membuat keputusannya sendiri. Dunia sudah cukup menderita, Anda harus divaksinasi,” tegasnya.
Editor: Aspian Nur