Siapa mengira, mantan penyerang Galatasaray Turki, Inter Milan di Serie A Italia dan Blackburn Rovers di Liga Inggris itu nasibnya kini sangat memprihatinkan.
Demi berjuang untuk hidup, pria 50 tahun itu harus bekerja sebagai supir taksi online di Amerika Serikat.
Striker yang membawa Galatasaray juara delapan kali Super Lig Turki itu terbuang dari negaranya sendiri karena berseteru dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Meskipun mencatat 51 gol dalam 112 penampilan bersama timnas Turki, mantan pesepakbola itu terpaksa meninggalkan tanah airnya setelah surat perintah penangkapannya dikeluarkan oleh orang nomor satu di negara tersebut.
Dilansir dari laman Dailystars.co.uk Kamis (18/11/2021) hari ini, Sukur berbicara dengan wartawan dari majalah Welt am Sonntag Jerman tentang kehidupan barunya di Negeri Paman Sam.
"Saya pindah ke Amerika Serikat, awalnya menjalankan sebuah kafe di California, tetapi orang-orang aneh terus datang,” jelas Sukur.
Surat perintah penangkapan terhadap pria kelahiran Adapazarı, Turki ini didistribusikan oleh Erdogan pada 2017 setelah sang presiden menuduh Sukur sebagai anggota Organisasi Teroris Fethullah (FETO).
FETO yang juga dikenal sebagai Gerakan Gulen, dianggap teroris di Pakistan, Turki dan Siprus Utara. FETO diyakini sebagai pelaku di balik kudeta yang gagal di Turki pada tahun 2016 silam.
Sejatinya Erdogan sempat terpilih sebagai anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan dalam pemilihan umum 2011 setelah pensiun dari sepak bola pada 2008.
Tinggal di pengasingan di California, Sukur menyangkal tuduhan yang diarahkan kepada dirinya. "Sepertinya tidak ada yang bisa menjelaskan peran saya dalam kudeta itu. Saya tidak pernah melakukan sesuatu yang ilegal, saya bukan pengkhianat atau teroris," tegasnya
Rumah, bisnis, dan rekening bank Sukur di Turki semuanya telah disita oleh pemerintah Erdogan. "Saya tidak punya apa-apa lagi, Erdogan mengambil segalanya, hak saya untuk kebebasan, kebebasan berekspresi dan hak untuk bekerja," tutupnya.
Kini Sukur harus berjuang untuk menghidupi keluarganya dari pekerjaan sebagai supir taksi online di Amerika Serikat yang entah sampai kapan dirinya bisa kembali ke negara sendiri.
Editor: Aspian Nur