"Hati saya benar-benar hancur, saya tidak dapat menemukan kata-kata untuk menggambarkan hampanya perasaan saya setelah mengetahui kejadian itu,” kata Ibanez dilansir dari laman Thesun.co.uk Minggu (24/10/2021) hari ini.
"Saya tidak percaya, sampai kapan kita akan terus hidup dengan begitu banyak kejahatan dan ketidakamanan seperti ini!,” tegasnya.
"Beristirahatlah dengan tenang Alex sayang, aku akan merindukanmu seumur hidupku," tutupnnya
Kementerian Olahraga Ekuador menyebut Quinonez sebagai sprinter terhebat dalam sejarah negara negara tersebut.
Quinonez merupakan pelari spesialis jarak dekat 100 meter dan 200 meter dan sudah tampil pada beberapa kali ajang Olimpiade.
Di Olimpiade London tahun 2012, Quinonez memecahkan rekor nasional saat berlomba di nomor 200 meter dengan catatan waktu 20,28 detik namun finis di posisi ketujuh saat final dimana pelari asal Jamaikan Usain Bolt jadi juara dan merebut medali emas.
Quinonez kemudian mendapatkan medali perunggu di Kejuaraan Dunia 2019 di Qatar, satu-satunya medali utamanya, setelahnya mendapat dua medali emas di Kejuaraan Ibero-Amerika tahun 2012. Quinonez sejatinya juga berlomba di Olimpiade musim panas Tokyo, Jepang bulan Agustus lalu, namun dirinya diskors setelah gagal dalam tes doping.
Sampai tutup usia, Quinonez memegang rekor nasional untuk 100m (10,09 detik), 200m (19,87) dan 400m (46,28). Kematiannya yang tragis terjadi pada hari keempat saat pemerintah memberlakukan kondisi nasional di Ekuador dimana Pesiden Guillermo Lasso mencoba menekan peningkatan kejahatan setelah beberapa kematian akibat kekerasan dalam beberapa pekan terakhir di negaranya terus terjadi.
Editor: Aspian Nur