Hanya dalam hitungan menit, pujian yang ditujukan kepada pemain asal Kota Madrid, Spanyol kelahiran 23 October 1992, Madrid karena dianggap sebagai pahlawan harus berganti menjadi hujatan sebagai pecundang. Bagaimana tidak, Morata sempat jadi penyelamat Tim Matador setelah golnya menit 80 menyamakan skor 1-1 padahal striker klub Juventus itu baru masuk menit 68 menggantikan posisi Feran Torres yang tampil tak maksimal.
Apa daya, di adu penalty, justru Morata yang tak mampu mengeksekusi tendangan 12 pas dengan baik karena bolanya diadang kiper Italia Gianluigi Donnarumma. Setelah pemain 28 tahun itu gagal dan gelandang Italia Jorginho sukses menjebol gawang Spanyol, laga berakhir karena sudah tak mungkin bagi Spanyol mengejar gol penalty sang lawan di fase krusial itu.
Tak ayal Morata harus bersiap jadi pesakitan saat pulang ke negaranya dari Inggris. Namun Luis Enrique sebagai pelatih tetap membela sang pemain. “Tak adil rasanya menghakimi Morata setelah gagal di penalty karena dia yang membawa tim ini menahan Italia di sepanjang laga dari gol yang dicetaknya. Penalty gagal hal wajar dan bisa terjadi kepada siapa saja,” ujar Enrique.
Morata pada fase 16 Besar juga sempat jadi sorotan karena gagal menetak gol ke gawang Kroasia di waktu normal. Namun ditambahan waktu gol tendangan gledeknya membuat negaranya unggul sampai akhirnya Spanyol menang 5-3.
Terlepas dari sorotan tajam atas kegagalannya menendang penalty, Morata kini menjadi pencetak gol terbanyak timnas Spanyol di ajang Piala Eropa dengan enam gol dari 10 pertandingan, melewati catatan Fernando Torres. Sebelum ini, Morata mencetak 3 gol di Euro 2016, kontra Turki (2) dan Kroasia (1). Di Euro 2020, penyerang Atletico Madrid yang dipinjamkan ke Juventus tersebut menjebol gawang Polandia (1), Kroasia (1), dan sekarang Italia.
“Sebenarnya dia kelelahan tapi dia ingin bermain dan sudah terlihat saat dia masuk. Dalam adu penalty, fisik yang terkuras berpengaruh pada mental,”sebut Enrique lagi.
Penulis/Editor: Aspian Nur