Nyawa Kido tak tertolong karena tak lama kemudian dikabarkan meninggal dunia. "Sepertinya dia memang maunya hidup dan matinya di lapangan bulutangkis," ujar Zul Asteria, ibu kandung Kido. Apa yang dialami Kido bisa dialami siapa saja, tak terkecuali seorang atlet yang dikenal memiliki fisik prima.
Tahun 2018, klub sepakbola Serie A Italia, Fiorentina, kehilangan Davide Astori yang juga meninggal dunia mendadak dalam usia 31 tahun dan pemicunya karena serangan jantung. Tak hanya Astori, peristiwa serupa juga pernah terjadi pada Piermario Morosini, atlet sepak bola dari klub Udinese.
Ia mengalami serangan jantung saat bertanding, dan meninggal dunia sebelum mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kenapa penyakit jantung bisa menyerang mereka yang rutin olahraga padahal jantung atlet berbeda dari mereka yang bukan atlet?. Mengutip dari klikdokter.com, ada kemungkinan wafatnya Markis Kido karena beberapa hal, diantaranya perbedaan di jantung orang yang rutin olahraga dengan tidak.
Untuk menjaga dan meningkatkan performanya di lapangan, para atlet melakukan aktivitas fisik yang jauh lebih berat dibandingkan kebanyakan orang pada umumnya. Aktivitas fisik tersebut menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen otot dan berbagai organ di dalam tubuh.
Agar dapat memenuhi kebutuhan oksigen tersebut, jantung para atlet melakukan perubahan struktur. Ukuran jantung, khususnya bilik kiri jantung, akan membesar agar bisa menampung darah lebih banyak. Kekuatan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh pun akan meningkat.
Supaya tak terlalu lelah, jantung melambatkan frekuensi denyutnya. Jadi bila dilakukan pemeriksaan, jantung para atlet umumnya berukuran lebih besar, kekuatannya dalam memompa darah juga jauh lebih besar, dengan denyut yang lebih lambat dibandingkan dengan orang-orang pada umumnya.
Namun demikian, bila tidak ada penyakit lain, struktur jantung atlet yang berbeda dari orang pada umumnya ini tidak menimbulkan keluhan apa pun. Dengan kata lain tidak membahayakan. Adalah penyakit bernama kardiomiopati hipertrofik lah yang paling sering menyebabkan penyakit mematikan dan mendadak pada banyak atlet terutama yang berusia muda.
Henti jantung mendadak adalah keadaan hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba dan tidak terduga yang menyebabkan hilangnya kesadaran dan pingsan. Kondisi henti jantung mendadak dianggap sebagai penyebab utama kematian pada atlet muda, tapi juga bisa terjadi pada dewasa muda yang tidak terlibat dalam klub olahraga resmi.
Henti jantung bisa terjadi saat berolahraga atau saat istirahat atau bahkan saat tidur. Saat fungsi jantung hilang secara tiba-tiba, artinya darah akan berhenti dipompa dan dialirkan ke organ tubuh seperti otak, paru-paru, dan hati. Karena itu, henti jantung mendadak merupakan keadaan darurat yang bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani dalam beberapa menit.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), sekitar 70-90 persen orang yang mengalami henti jantung di luar rumah sakit meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Diperkirakan 1 dari 500 orang di dunia menderita penyakit ini. Kardiomiopati hipertrofik menyebabkan otot jantung menebal dengan progresif.
Lama-kelamaan, penebalan otot ini menyebabkan serambi dan bilik jantung tertutup oleh otot, sehingga darah tak dapat masuk ke dalam jantung. Akibatnya, jantung tak mendapatkan suplai darah, juga tak bisa menghantarkan darah ke otak dan organ-organ tubuh lainnya. Rangkaian kondisi inilah yang menyebabkan jantung berhenti mendadak dan menimbulkan kematian.
Kardiomiopati hipertrofik sebenarnya tak hanya bisa dialami atlet. Orang-orang yang bukan atlet pun juga dapat terkena penyakit tersebut. Meski demikian, karena perubahan struktur jantung yang terjadi pada atlet, penyakit ini lebih membahayakan dan fatal jika dialami oleh atlet. Kardiomiopati hipertrofik juga tak selalu menimbulkan kematian mendadak. Justru sebagian besar penderitanya dapat hidup layaknya orang normal.
Agar penyakit jantung yang mengancam nyawa atlet bisa dihindari, baik para atlet maupun pelatihnya harus mengenali gejala awal kardiomiopati hipertrofik antara lain keturunan dari keluarga, pernah pingsan atau kejang saat melakukan aktivitas fisik dan nyeri dada atau sesak napas saat melakukan aktivitas fisik.
Bila terdapat salah satu dari ketiga hal tersebut, atlet yang mengalaminya perlu diperiksa lebih lanjut oleh dokter ahli jantung. Dokter akan memeriksa aktivitas listrik jantung melalui pemeriksaan elektrokardiografi (EKG), serta melihat gerakan dan struktur jantung melalui pemeriksaan ekokardiografi.
Deteksi dini yang baik dapat menurunkan risiko kematian mendadak pada para atlet hingga 89 persen.Jadi, meski para atlet kerap dikaitkan dengan kondisi fisik yang sehat dan bugar, adanya keluhan yang mengarah pada penyakit jantung harus segera ditindaklanjuti.
Editor: Aspian Nur