Namun secara terbuka bek kiri Italia itu tak mengira bisa jadi pemain terbaik. “Saya juga tidak tahu kenapa dipilih jadi pemain terbaik, yang pasti kami semua bermain dengan baik sepanjang waktu di atas lapangan. Saya bahagia dengan hasil ini,” ujar pemain 28 tahun yang memperkuat AS Roma ini.
Saat menghadapi Turki, Spinazzola yang bermain di bek kiri mampu membuat lawan kesulitan tak hanya menyerang tapi juga bertahan, karena pemuda kelahiran Foligno, Italia itu, kerap membantu serangan timnya.
"Sejak berada di bus memasuki stadion, melihat para pendukung di jalanan, itu sungguh membuat kami merinding dan memberikan semangat serta motivasi kami sebelum bertanding," jelasnya lagi dikutip dari laman UEFA.com.
“Saya melihat anak laki-laki saya di bangku penonton bersama ibunya, itu menambah semangat saat bermain. Rasanya sangat emosional,” paparnya. Ketenangan jadi kunci keberhasilan Spinazzola sehingga mampu membantu Italia mengalahkan Turki.
“Saya tidak mau bermain terburu-buru, tetap tenang. Saya juga tidur nyenyak tanpa memikirkan betapa krusialnya menghadapi Turki. Saya rileks sebelum bertanding," jelasnya dengan tersenyum. "Pelatih meminta saya untuk naik ke depan dan menekan lawan, tapi terkadang saya minta waktu untuk bernapas. Itu sungguh melelahkan!" ungkap Spinazzola.
Penulis/Editor: Aspian Nur