Apa sebenarnya makna di balik tulisan besar yang mereka pamerkan itu? Melansir dari dailymail, Norwegia yang diperkuat pemain potensial Erling Braut Haaland serta Jerman yang ditangani pelatih Joachim Loew sama-sama menyuarakan kepedulian terhadap para imigran yang bekerja di Qatar, tuan rumah Piala Dunia 2022 tahun depan.
Piala Dunia Qatar akan diadakan mulai 21 November dan 18 Desember 2022, dengan 32 tim bersaing di delapan stadion.
Diketahui, setidaknya ada 6.500 pekerja yang membangun stadion lengkap dengan fasilitasnya untuk perhelatan sepakbola akbar di Qatar tersebut berasal dari India, Pakistan, Nepal, Bangladesh dan Sri Lanka, sudah meninggal dunia selama 10 tahun karena kondisi kerja yang buruk dan kurangnya pelatihan. Angka sebanyak itu belum termasuk pekerja dari Filipina dan Kenya yang mencari rejeki dari ajang sepakbola empat tahunan tersebut.
Sekadar diketahui, untuk perhelatan Piala Dunia 2022, Qatar membangun tujuh stadion baru, termasuk bandara baru, hotel baru, jalan baru dan transportasi umum dan kota baru.
Catatan hak asasi manusia, Qatar telah menjadi subjek pengawasan sejak negara tersebut memenangkan undian untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
Amnesty International menerbitkan laporan yang memberatkan dan menuduh negara kaya itu berbohong kepada para migran untuk membujuk mereka agar datang bekerja.
Banyak pekerja membayar biaya yang mahal kepada perusahaan perekrutan yang disewa oleh pemerintah Qatar untuk menutupi biaya transportasi dan akomodasi. Banyak dari mereka tidak mampu membayar biaya sehingga mereka diberi pinjaman yang harus mereka bayar kembali.
Begitu sampai di Qatar, mereka diduga dipaksa untuk hidup dalam kondisi yang jorok dan seringkali tidak dibayar tepat waktu atau seperti yang dijanjikan. “Pekerja sering tinggal di akomodasi yang sempit, kotor dan tidak aman,” lapor Amnesty International.
Gaji yang tak sesuai janji dan pembayaran sering tertunda menyebabkan pekerja tidak dapat mengirim uang kembali ke rumah. Jangankan untuk mengirim keluarga, untuk mereka sendiri pun tak cukup.
Rata-rata 12 pekerja migran dari negara-negara Asia Selatan meninggal setiap pekannya saat bekerja di Qatar. Angka itu bisa dua kali lebih tinggi jika catatan kematian imigran lainnya dirilis.
Karena itulah Norwegia dan Jerman jadi negara terdepan yang menyuarakan kesedihan mereka lewat tulisan di baju kaos. “Hak asasi manusia di dalam dan diluar lapangan,” tulisan di kaos berwarna putih pemain Norwegia.
Sementara Jerman dengan kaos warna hitam menuliskan dengan huruf kapital HUMAN RIGHTS sebelum berlaga melawan Islandia dini hari tadi yang mereka menangkan dengan skor 3-0.
Editor: Aspian Nur