Di RheinEnergie Stadion, Koln, Jerman, Setan Merah unggul duluan lewat penalti Bruno Fernandes di awal babak pertama. Mantan pemain AC Milan Suso menyamakan skor di menit ke-26. Memasuki babak kedua, Sevilla yang akhirnya melaju ke final usai memastikan kemenangan 2-1 lewat gol pemain pengganti asal Belanda Luuk de Jong pada menit ke-77. Sevilla melaju ke final untuk menantang pemenang partai Inter Milan vs Shakhtar Donetsk yang berlaga dinihari nanti.
Sejarah besar di kompetisi ini memainkan peran buat Sevilla. Lewat kemenangan ini, Sevilla memastikan mencapai final Liga Europa/Piala UEFA keenam dalam sejarah mereka.
Jumlah itu setidaknya dua lebih banyak dari tim-tim lainnya. Liverpool, Juventus, dan Inter Milan sebagai tim-tim berikutnya yang paling sering ke final, tercatat 'baru' empat kali ke partai puncak.
Dan jangan lupa bahwa Sevilla selalu berhasil juara di lima final sebelumnya. Sementara Liverpool, Juventus, dan Inter masing-masing mengalami satu kegagalan. Sevilla tercatat dua kali juara dalam format lama yakni Piala UEFA, pada tahun 2006 dan 2007 silam. Mereka lantas tiga musim beruntun juara di era Liga Europa: 2014, 2015, dan 2016.
Sementara baik Liverpool, Juventus, maupun Inter sama-sama belum pernah juara di era Liga Europa. Liverpool terakhir kali juara pada 2001, Juventus pada 1993, dan Inter pada 1998 silam.
"Kami sangat senang dan puas bisa mencapai final. Kami sudah mengalahkan sebuah tim yang fantastis, tak diragukan lagi tim United terbaik dalam beberapa tahun terakhir," kata Lopetegui.
"Kami kepayahan terutama di babak kedua, tapi menunjukkan kebesaran tekad. Kami merasa final itu sesuatu yang memungkinkan. Kami banyak berlari dan tampil lebih baik lagi. Kami sangat senang bisa berada di final, sangat senang buat para suporter. Masa-masa belakangan ini sudah sulit, jadi senang bisa menghadirkan kegembiraan buat orang-orang. Kami antusias untuk tampil di final dan memenanginya," kata Lopetegui lagi seperti dikutip korankaltim.com dari detik.com.
Bagi United, ini untuk ketiga kalinya secara beruntun mereka kalah di semifinal musim 2019/2020. Saat berlaga di Piala Liga Inggris, United dihentikan Manchester City di babak empat besar, sementara di semifinal Piala FA, MU ditumbangkan oleh Chelsea. Tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer itu kalah 1-3 saat berduel dengan skuad asuhan Frank Lampard.
Kenangan buruk itu rupanya masih membekas di benak para pemain United dan boleh jadi itu membuat performa mereka tak bisa lepas. Padahal dalam empat kesempatan tampil di semifinal Liga Europa/Piala UEFA, MU meraih dua trofi termasuk di musim 2016/2017.
"Sejak Februari lalu, kami tampil fantastis. Lalu sangat mengecewakan ketika kami harus tersingkir lagi. Kami sudah mencapai sejauh ini. Sangat menyenangkan jika melihat anak-anak berlatih, tapi akhirnya mereka juga kelelahan fisik dan mental. Kami jelas harus bisa lebih baik lagi jika ingin memperbaiki posisi di klasemen, serta melaju jauh di kompetisi domestik," ujar Solskjaer. “Saya tidak pernah merasakan tiga kali semifinal dalam semusim," sambung manajer Manchester United sejak Desember 2018 itu.
MU memang boleh menepuk dada karena sejak akhir Januari, MU baru kalah dua kali di seluruh kompetisi dan Fernandes yang baru saja gabung tampil luar biasa. Tapi, takdir berkata lain karena begitu memasuki waktu genting, para pemain MU seperti kikuk dan berujung kegagalan tim. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di detik.com hari Senin 17 Agustus 2020 dengan judul Maaf MU, Sevilla adalah Raja Liga Europa