Kemenangan atas Wolves membuat Sevilla maju ke semifinal menantang wakil Inggris lainnya, Manchester United untuk memperebutkan tiket ke final, yang digelar 21 Agustus pekan depan.
Pelatih Sevilla, Julen Lopetegui menyebut Manchester United sebagai tim terbesar di dunia. "Kami akan bermain melawan Manchester United di laga selanjutnya. Mereka adalah tim terbesar di dunia, tapi kami akan bersiap untuk menghadapi mereka," kata Lopetegui dikutip korankaltim.com dari republika.com. "Kami fokus pada laga berikutnya, melawan tim papan atas, punya sejarah, dan salah satu tim terbaik dalam sejarah olahraga yang sedang dalam performa hebat," sambungnya.
Julen Lopetegui mengakui bahwa laga tersebut akan sangat berat. Meski begitu, ia yakin timnya bisa memenangi partai krusial tersebut. "Seperti biasa kami akan memberikan yang terbaik. Melawan mereka akan sangat sulit, tapi kami pergi ke sana dengan keyakinan bahwa kami bisa mengalahkan mereka," jelas mantan arsitek Real Madrid ini.
Sementara bagi Si Serigala, julukan Wolverhampton, kekalahan ini mengakhiri perjalanan mereka di pentas Eropa. Kapten Wolverhampton, Conor Coady, tahu rekan-rekan setimnya akan butuh waktu lama untuk melupakan kekalahan dari Sevilla. Namun, Coady tidak kecewa dengan apa yang telah terjadi pada Wolverhampton pada musim ini, terutama kekalahan dari Sevilla. Menurut pemain berpaspor Inggris itu, setiap penggawa Wolverhampton telah memberikan segalanya di atas lapangan hijau.
Coady pun tidak menyalahkan Raul Jimenez yang gagal mengeksekusi penalti pada menit ke-11. Kapten Wolves itu justru lebih menyoroti ketidakmampuan ia dan rekan-rekannya menjaga kesucian gawang Rui Patricio. "Ini sulit, sulit untuk diterima. Butuh waktu lama untuk melupakannya, tetapi setiap pemain telah meninggalkan segalanya di lapangan sepanjang tahun. Kami hancur,” ujar Coady. “Kami memulai dengan hebat, kami tidak menyalahkan Raul Jimenez, dia mencetak begitu banyak gol untuk kami. Kami seharusnya tidak kebobolan. Kami kalah dari tim kelas atas. Kami mendorong mereka,” ucapnya.
Pelatih Wolves Nuno Espirito Santo frustrasi dengan kekalahan timnya apalagi ada keputusan wasit yang disorot karena tidak mengulang hadiah penalti untuk Wolves saat ada gangguan. Namun, Nuno tak mau menyalahkan wasit dan larut dalam kekecewaan. Tayang ulang menunjukkan kiper Bono sedikit bergerak lebih cepat meninggalkan garis saat ia menyelamatkan upaya Jimenez. Kemudian bek Diego Carlos tampak telah berada ke dalam kotak penalti lebih cepat untuk menyapu bola. "VAR ada di sana," kata Nuno.
Dia juga menolak menyalahkan Jimenez atas kegagalan penalti itu. Menurut Nuno, membahas kesalahan yang sudah terjadi hanya akan membuat kekecewaan bertambah. "Raul adalah pemain yang luar biasa. Pekerjaan, gol, bakat yang dimilikinya, Raul pemain yang fantastis," kata pelatih asal Portugal ini. (*)
Editor: Aspian Nur
Berita ini sudah tayang di republika.com hari Rabu 12 Agustus 2020 dengan judul Pelatih Shakhtar tak Sabar Lawan Inter di Liga Europa