Kongres dibuka PSSI Provinsi Kalimantan Timur yang diwakili Wakil Ketua Umum Syafruddin Duntu. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya statuta sebagai pedoman utama organisasi dalam menjalankan roda pembinaan sepak bola.
“Statuta itu adalah buku panduan PSSI. Semua sudah diatur di dalamnya, mulai dari tingkat kabupaten, kota hingga provinsi. Sekarang tidak lagi Askab, semuanya sudah menjadi PSSI,” kata Syafruddin.
Apresiasi diberikan atas capaian Kutai Kartanegara yang berhasil meraih prestasi pada ajang Porprov di Berau dengan mengandalkan pemain lokal.
“Kami apresiasi Kukar yang juara di Berau dengan pemain asli daerah. Akan terasa hambar jika juara, tetapi pembinaan sepak bolanya tidak berjalan,” tambahnya.
Kongres ini menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi sepak bola di Kutai Kartanegara, tidak hanya dari sisi prestasi, tetapi juga dalam membangun ekosistem yang melibatkan masyarakat luas sebagai bagian dari perjalanan olahraga daerah.
Sementara Ketua PSSI Kutai Kartanegara Thauhid Afrillian Noor menegaskan, visi besar organisasi ke depan adalah menghidupkan kembali atmosfer stadion dengan menghadirkan lebih banyak penonton.
“Visi besar kami adalah mengembalikan penonton ke stadion. Ini bukan hal mudah. Artinya, kami harus konsisten menggelar kompetisi dari usia dini, festival sepak bola, hingga antar klub, voters dan komunitas suporter,” kata Thauhid.
Menurutnya, sepak bola tidak akan berkembang jika hanya dimainkan tanpa dukungan penonton. Antusiasme publik menjadi energi penting bagi para pemain untuk tampil maksimal.
“Percuma kalau yang menonton hanya sesama pemain. Kalau stadion ramai, semangat pemain pasti meningkat,” sebut Toi sapaan akrab Ketua PSSI Kukar ini.
Ia juga memaparkan sejumlah capaian, di antaranya keberhasilan Kukar meraih peringkat emas pada Pekan Pelajar Olahraga Daerah tingkat Kalimantan Timur, serta prestasi di ajang Soeratin U-13 dan U-15.
Tantangan terbesar saat ini adalah keterbatasan anggaran yang juga dirasakan oleh banyak daerah.
“Kami tetap menggulirkan kompetisi dan melakukan evaluasi secara berkala yang dilaporkan ke KONI dan Dispora. Kami berharap dukungan semua pihak, termasuk pemerintah daerah,” terangnya.
Sementara itu, Ketua KONI Kutai Kartanegara, Chairil Anwar, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mendukung pembinaan olahraga, terutama menjelang Porprov Kalimantan Timur di Paser pada November mendatang.
Program pemusatan latihan (TC) secara sentralisasi maupun desentralisasi masih terkendala anggaran. Karena itu, pihaknya mendorong keterlibatan dunia usaha dalam mendukung pembinaan atlet.
“Kami mendorong Komisi IV untuk segera menggelar RDP dengan menghadirkan pelaku usaha, khususnya dari sektor tambang dan perkebunan sawit, agar bersama-sama mendukung olahraga di Kukar,” harap Chairil.
Chairil optimis terhadap target mempertahankan gelar juara umum pada Porprov mendatang, sekaligus kebanggaan terhadap atlet lokal.
“Saya bangga, yang dibina adalah putra asli daerah, dengan KTP Kukar. Ini yang harus terus kita jaga,” tegasnya.
Editor: Aspian Nur