Pertandingan antara Italia dan Bosnia akan dipimpin oleh wasit Clement Turpin (Prancis). Turpin dulu juga memimpin pertandingan antara Italia dan Makedonia Utara di semifinal play-off Piala Dunia 2022.
Italia, yang kala itu berstatus sebagai juara Eropa, dikalahkan Makedonia Utara dengan skor 0-1. Gli Azzurri pun gagal lolos ke Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun. Italia sudah 12 tahun tidak tampil di Piala Dunia. Mereka terakhir kali berpartisipasi di turnamen sepakbola terakbar empat tahunan itu adalah pada 2014.
Italia bahkan sudah 20 tahun tidak masuk ke fase knockout Piala Dunia sejak jadi juara pada 2006. Di Piala Dunia 2010 dan 2014, mereka tersingkir di fase grup.
“Kami sangat menyadari banyak hal yang dipertaruhkan. Saya tahu itu, staf saya tahu itu, para pemain tahu itu dan Federasi tahu itu. Ini adalah pertandingan yang menantang, terutama ketika kami tahu tidak boleh membuat kesalahan,” tegas Gatusso.
“Saya berharap tidak mengecewakan para penggemar kami. Kami akan turun ke lapangan dengan tekad dan intensitas yang besar. Ini adalah momen paling penting dalam sejarah sepak bola kami. Kami pernah menjadi juara tanpa menjadi tim terkuat beberapa kali; kami mencapainya dengan menunjukkan keberanian, patriotisme, semangat juang, dan tekad. Kami tidak boleh kekurangan salah satu dari itu besok. Dibutuhkan Italia yang benar-benar hebat untuk mewujudkan mimpi kembali ke Piala Dunia,” papar mantan pemain AC Milan dan timnas Italia itu.
Suhu dingin yang menyambut Azzurri akan berganti dengan suasana yang memanas dengan lebih dari 8.000 pendukung Bosnia diperkirakan akan memadati tribun di Bilino Polje, berharap dapat menyemangati tim mereka menuju panggung Piala Dunia dua belas tahun setelah penampilan pertama dan satu-satunya mereka di Brasil 2014 dan Gattuso menyadari itu. "Kami harus menyadari suporter tidak pernah mencetak gol; itu tidak pernah terjadi dalam karier saya,” kata Gatusso lagi.
Bahkan lapangan itu sendiri tidak benar-benar sempurna, tetapi sang pelatih tidak mencari-cari alasan. “Kami tidak boleh memikirkan kondisi lapangan, apakah bagus atau buruk atau apa yang akan terjadi di tribun. Itu adalah pola pikir yang lemah. Saya sudah melihat lapangan dan kondisinya baik-baik saja,” tegasnya.
Selain Edin Dzeko, yang memiliki sejarah panjang di Serie A bersama Roma, Inter, dan Fiorentina, Bosnia dan Herzegovina menurunkan beberapa wajah familiar dari sepak bola Italia, mulai dari mantan pemain Roma Tahirovic hingga Kolasinac dari Atalanta dan bek Sassuolo Tarik Muharemovic. Skuad asuhan Pelatih Sergej Barbarez menggabungkan pemain berpengalaman dipimpin oleh kapten yang selalu hadir, Dzeko dengan talenta muda seperti sayap kiri berusia 18 tahun Kerim Alajbegovic dari Salzburg, yang perannya di Cardiff pekan lalu sangat menentukan dalam kemenangan adu penalti atas Wales.
Kapten Azzurri Gianluigi Donnarumma yang mencapai 80 penampilan untuk Italia pada usia 27 tahun di Bergamo pekan lalu ingin bermain di Piala Dunia pertamanya musim panas ini: “Bersama Azzurri, ada banyak kegembiraan dan kekecewaan. Saya telah melewatkan dua Piala Dunia, dan saya ingin membawa Italia kembali ke tempat yang seharusnya,” tegas sang kiper.
Sergej Barbarez sendiri siap menghadapi Italia. "Ini adalah pertandingan yang sangat penting bagi Italia, tetapi juga bagi kami. Bahkan, dari sudut pandang negara kami, ini jauh lebih penting. Para pemain saya semua dalam kondisi baik, satu-satunya yang merasa tidak enak badan adalah saya yang kehilangan suara di Wales. Pertandingan lalu yang berakhir dengan adu penalti sangat melelahkan, tetapi kami senang dan kami punya waktu untuk pulih. Bagi tim kami, berlari adalah hal yang sangat penting, semoga kami bisa bertahan hingga akhir," ujar Barbarez.
"Saya tidak ingin membicarakan lawan-lawan kami berikutnya, yang selalu bisa mengejutkan kami meskipun kami sudah mempersiapkan diri dengan sempurna. Karena itu, kami harus memiliki rencana A, rencana B, dan rencana C. Kami harus memperhatikan setiap detail, bermain dengan berani dan tanpa rasa takut," imbuhnya.
Editor: Aspian Nur