Selisih satu poin di papan bawah klasemen membuat laga ini bernilai lebih dari sekadar tiga angka. Hasil pertandingan akan sangat menentukan posisi kedua tim dalam persaingan keluar dari zona bahaya.
Pelatih Persiba Leonard Tupamahu menilai kondisi timnya cukup siap menghadapi tekanan tersebut. Persiapan yang berlangsung selama tiga hari di tengah Ramadan disebutnya berjalan efektif, dengan pemain tetap menunjukkan komitmen dan profesionalisme.
“Situasi puasa bukan alasan. Anak-anak tetap menjalankan program dengan disiplin dan semangat. Kami fokus memaksimalkan waktu yang ada,” ujarnya.
Leonard menyadari tidak ada ruang untuk kehilangan poin di kandang sendiri. Ia menegaskan seluruh pemain memahami konsekuensi dari hasil pertandingan ini terhadap nasib tim di klasemen.
“Posisi kami masih rawan. Karena itu laga ini harus dimaksimalkan. Targetnya jelas, bagaimana caranya kami bisa mengamankan hasil terbaik,” tegasnya.
Secara permainan, ia melihat tren pertahanan mulai menunjukkan perkembangan positif. Intensitas kebobolan mampu ditekan dalam beberapa laga terakhir. Namun di sisi lain, efektivitas penyelesaian akhir masih menjadi evaluasi utama.
“Secara organisasi bertahan sudah lebih rapi. Tinggal bagaimana peluang yang tercipta bisa lebih efektif dikonversi menjadi gol,” jelas Leonard.
Bek kiri Persiba, Arsa Ahmad, menambahkan para pemain sepakat menjadikan laga ini sebagai momentum kebangkitan. Menurutnya, jarak poin yang tipis membuat setiap pertandingan terasa seperti final.
“Kami sadar betul situasinya. Tidak ada pilihan selain tampil maksimal dan membuktikan kerja keras selama latihan di lapangan,” katanya.
Dukungan publik Batakan diharapkan menjadi dorongan tambahan bagi tuan rumah. Kemenangan atas PSIS akan menjadi pijakan penting bagi Persiba untuk keluar dari tekanan dan menjaga peluang bertahan di Liga 2 musim ini.
Editor: Erwin