Selain Indonesia, tiga negara dari konfederasi berbeda turut ambil bagian, yakni Bulgaria (UEFA), Kepulauan Solomon (OFC), serta Saint Kitts dan Nevis (CONCACAF). Keberagaman latar belakang sepak bola para peserta itu diyakini menjadi tantangan sekaligus pengalaman berharga bagi skuat Garuda dalam meningkatkan adaptasi taktik dan daya saing internasional.
“Ajang ini tak hanya menjadi uji coba yang baik bagi pelatih baru, John Herdman, tapi juga kesempatan bagi para pemain Timnas untuk menjajal kemampuan dan gaya bermain berbeda dari konfederasi berbeda,” kata Erick dikutip dari Antaranews, Selasa (24/2/2026).
Menurut Erick, variasi pendekatan taktik dan tempo permainan dari tiap negara akan memperkaya pengalaman bertanding para pemain, terutama dalam hal adaptasi strategi di lapangan.
Pada laga pembuka 27 Maret pukul 21.00 WITA, Indonesia dijadwalkan menghadapi Saint Kitts dan Nevis.
“Di pertandingan pertama, Indonesia akan melawan St. Kitts and Nevis (CONCACAF), yang merupakan bekas koloni Inggris. Gaya main mereka banyak mengadopsi British football style, dan juga mengandalkan counter attack,” jelas Erick.
Jika mampu meraih kemenangan, Indonesia akan menghadapi pemenang laga antara Bulgaria dan Kepulauan Solomon di partai final pada 30 Maret. Sementara tim yang kalah akan bertanding dalam perebutan tempat ketiga.
Erick menambahkan, FIFA Series menjadi sarana yang tepat untuk membangun fondasi tim di era kepelatihan baru serta meningkatkan daya saing Indonesia di level internasional.
“Saya berharap Timnas di era pelatih baru ini bisa memanfaatkan ajang ini untuk membangun kembali kekuatan Timnas,” pungkasnya.
Editor: Erwin