Mali tampil menggigit sejak peluit pertama dibunyikan. Baru lima menit berjalan, Selou Doucoure membuat Pakansari terdiam setelah menanduk bola hasil sepak pojok dan membawa tim tamu unggul cepat. Tertinggal, Indonesia mencoba merespons. Tekanan demi tekanan dibangun melalui Dony Tri, Mauro Zijlstra, Rahmat Arjuna, Ivar Jenner, hingga Rafael Struick. Gelombang serangan tercipta, namun lagi-lagi Garuda Muda menemui tembok besar bernama penyelesaian akhir. Bola berkali-kali masuk area berbahaya, tetapi tak satu pun berbuah gol.
Justru Mali yang kembali menusuk. Pada menit ke-35, Wilson Samake memamerkan aksi individu, melewati dua pemain Indonesia sebelum menaklukkan Cahya Supriadi. Skor 0-2 membuat mental Indonesia kian tertekan.
Babak kedua dimulai dengan kabar buruk, Rahmat Arjuna harus ditarik keluar karena cedera dan digantikan Wigi Pratama. Perubahan ini sedikit menghidupkan permainan. Pressing lebih rapi, aliran bola lebih cepat. Namun, peluang yang hadir tetap tak mampu mengubah angka di papan skor, termasuk tendangan bebas Dony Tri di menit ke-55 yang melambung.
Mali tak sepenuhnya mengendur. Mereka menunggu momen lewat serangan balik, dan hampir menambah gol di menit ke-73 saat tembakan Sekou Kone memaksa Cahya melakukan penyelamatan gemilang.
Meski dominasi penguasaan bola beralih ke Indonesia menjelang akhir laga, efektivitas masih menjadi musuh besar Garuda Muda. Berkali-kali masuk ke kotak penalti, berkali-kali pula peluang terbuang percuma.
Petaka akhirnya datang di injury time. Kesalahan lini belakang dimanfaatkan sempurna oleh Moulaye Haidara yang menutup malam kelam Indonesia dengan gol ketiga Mali.
Indonesia harus mengakui bahwa uji coba ini belum menunjukkan taring mereka. Justru sebaliknya, laga ini menegaskan bahwa banyak pekerjaan rumah menumpuk bagi tim asuhan Indra Sjafri, terutama di lini belakang dan kualitas penyelesaian akhir. (*)
Editor: Erwin