"Mulai musim ini (2025/2026) kami melakukan rebranding dengan mengusung nama BRI Super League untuk Liga 1 dan Pegadaian Championship untuk Liga 2," kata Ferry melansir dari laman pssi.org Selasa (8/7/2025) hari ini.
Perubahan ditetapkan untuk memberi wajah baru bagi Liga Indonesia. Namun hal ini hanya berlaku untuk level profesional, sedangkan Liga 3 yang semi-profesional masih bertajuk Liga Nusantara.
Selain mengubah nama liga, PT LIB juga mengusung wajah baru perseroan dengan nama Indonesia League (I-League) sebagai operator Liga Indonesia. "Entitas tetap PT LIB tapi brand-nya adalah I-League bukan lagi LIB," sebut Ferry.
Sementara perubahan besar lain yang dilakukan LIB adalah penetapan kuota pemain asing untuk Super League musim depan yang mana setiap klub diizinkan mendaftarkan 11 nama asing namun hanya delapan yang boleh dimainkan bersamaan.
Sebelumnya di Liga 1 2024/2025, kuota pemain asing adalah delapan yang bisa didaftarkan dan hanya enam boleh diturunkan bersamaan.
"Musim depan pemain asing adalah delapan yang main. Di DSP (daftar susunan pemain) juga hanya boleh delapan. Tapi klub bisa mendaftarkan menjadi 11. Mudah-mudahan tidak bergeser lagi," harap Ferry.
Sebutan Super League atau Liga Super bukan hal baru di sepakbola Indonesia. Indonesia Super League (ISL) pernah menjadi nama kompetisi selama delapan musim pada 2008 hingga 2015, berganti menjadi Liga 1 mulai musim 2017 setelah kompetisi Indonesia jalan lagi.
Kompetisi sepak bola di Tanah Air diketahui sempat rehat lantaran banned FIFA buat sepakbola Indonesia pada 2015 sehingga Indonesia sempat tanpa liga pada 2015 dan 2016.
Setelah era Liga 1 berjalan selama delapan musim, operator kompetisi kemudian memilih mengganti nama kompetisi lagi. Ini merupakan pergantian ketiga di era profesional, yakni Liga Indonesia (1994 - 2007/08), ISL (2008 - 2015), Liga 1 (2017 - 2024/25) dan Super League (2025- ).
Editor: Aspian Nur