Pelatih asal Spanyol itu menyebut pertandingan berjalan semakin sulit setelah Muhammad Bakhitar cedera. Praktis, hilangnya pemain bernomor punggung 32 tersebut membuat Mitra Kukar hanya memiliki Bayu Pradana sebagai gelandang bertahan. Ia terpaksa menggeser Anindito Wahyu sebagai gelandang bertahan meski mantan pemain Persis Solo itu bertipe lebih menyerang. “Pertandingan yang sulit karena kami banyak masalah di lapangan, termasuk cederanya Bakhtiar. Kami juga banyak peluang di babak pertama, namun kurang beruntung,” ujar Rafael.
Perubahan posisi Anindito Wahyu sebagai gelandang bertahan secara mendadak mengundang pujian Berges. Anindito dimainkan menjadi gelandang bertahan bersama Bayu (Pradana). Akibatnya Medan punya tiga pemain di tengah, sedangkan kami hanya dua. Tapi Anindito bermain bagus di posisi yang pertama kali dia jalani,” jelas Berges.
“Kami selalu menerapkan permainan ofensif, pemain sudah bekerja keras. Kami bermain bagus, dan Medan juga bertahan dengan baik. Hanya saja, kami harus bisa lebih mengontrol permainan ke depannya,” paparnya.
Sementara itu, kemenangan PSMS menjadi sangat penting bagi Wiganda Pradika. Selain menjadi modal untuk menghadapi laga selanjutnya, pemain belakang Mitra Kukar ini juga senang bisa mengalahkan mantan timnya. “Pertandingan ini juga sangat emosional buat saya. Kalau tadi kami kalah, tentu akan banyak yang bilang saya pindah ke tim yang kalah. Tapi alhamdulillah kami bisa menang. Kami menjalani instruksi pelatih dengan baik, dan untuk kali pertama kami cleansheet,” beber Wiganda. “Ini menjadi modal bagi kami untuk pertandingan away melawan Semarang. Mudah-mudahan kami bisa mencuri poin, karena pertandingan ini juga sangat penting buat kami di klasemen. Kemenangan ini mengembalikan kepercayaan diri kami,” tegasnya.
Dengan kemenangan ini, Mitra Kukar melesat dari peringkat ke-14 dan menempati posisi keenam dengan 13 poin dari 10 laga. Hasil itu juga menjadi modal berharga sebelum menyambangi markas PSIS Semarang. (gdc)