Pasokan Air Baku Menipis, BPBD Samarinda Cari Sumber Tambahan untuk Waduk Benanga
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus berupaya menjaga ketersediaan air baku di tengah kemarau panjang.
Guna menjaga pasokan ke Waduk Benanga (Bendungan Lempake) di Kecamatan Samarinda Utara yang menjadi salah satu sumber air baku utama Perumda Tirta Kencana, sejumlah sumber air tambahan mulai ditelusuri.
Langkah ini diambil setelah suplesi aliran dari kawasan trek dayung di Jalan Sidorejo (atau Suko Rejo), Kelurahan Lempake belum memberikan hasil signifikan, karena hanya mampu menaikkan tinggi muka air sekitar 30 sentimeter.
“Kita sekarang sedang membuat skenario untuk penambahan debit air di Benanga, yang dari trek dayung kenaikannya hanya 30 sentimeter,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, Minggu (27/9/2026).
Berdasarkan informasi Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda, Tinggi Muka Air (TMA) di Waduk Benanga Samarinda hingga 26 September 2026 berada di posisi 6,4 meter, mendekati batas terendah operasional pengambilan air baku di angka 6 meter.
Sebab itu, tim gabungan yang terdiri atas unsur kelurahan, kecamatan, Perumda Tirta Kencana, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) telah menyurvei sejumlah titik potensial.
Salah satunya berada di kawasan lubang bekas tambang (void) Tanah Merah, tempat ditemukannya saluran air lama yang saat ini tersumbat.
“Kita akan rapatkan kembali supaya cepat bergerak untuk menambah debit air yang di Benanga,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan air baku, distribusi air bersih kepada warga dipastikan tetap berjalan dengan capaian penyaluran menembus lebih dari 1 juta liter.
Adapun untuk kebutuhan nonkonsumsi seperti mandi, cuci, dan kakus (MCK), pemerintah memanfaatkan pasokan dari lubang bekas tambang di Bukuan, Kecamatan Palaran, serta Bayur, Kecamatan Samarinda Utara.
Berdasarkan hasil uji laboratorium DLH, air dari lokasi tersebut layak digunakan untuk MCK, tetapi tidak untuk dikonsumsi.
Sementara untuk pengairan sektor pertanian, distribusi air diarahkan ke kawasan sawah yang berdekatan dengan sumber air Sungai Karang Mumus (SKM) maupun lubang bekas tambang, seperti di Betapus, Kecamatan Samarinda Utara, dan Makroman, Kecamatan Sambutan.
“Kita tambah satu unit pompa di Makroman supaya ada percepatan penanaman, sumber airnya juga dekat,” terangnya.
Hingga kini, mayoritas wilayah Kota Tepian belum diguyur hujan. Kondisi kekeringan kian diperberat oleh fenomena intrusi air laut yang terus terjadi hingga mengganggu proses produksi air bersih.
Karena itu, diharapkan upaya penambahan debit air ini dapat menjadi solusi untuk menjaga ketersediaan air baku selama kemarau masih berlangsung.
“Kita berharap situasi cepat membaik dan semoga segera turun hujan,” pungkasnya.
Editor: Erwin









