Selasa, 22/09/2026
Selasa, 22/09/2026
Potret perbedaan angka kualitas udara dari BMKG (kiri) dan dari DLH (Kanan). (Foto: Adnan Abdul/KoranKaltim.com)
Selasa, 22/09/2026

Potret perbedaan angka kualitas udara dari BMKG (kiri) dan dari DLH (Kanan). (Foto: Adnan Abdul/KoranKaltim.com)
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Asap kebakaran lahan tidak selalu terasa sama di setiap sudut Kota Samarinda. Pada waktu yang hampir bersamaan, udara di sekitar Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto tercatat berada pada kategori tidak sehat, sementara kawasan pusat kota masih menunjukkan kualitas udara yang baik.
Perbedaan itu terlihat pada Senin (21/9/2026) pagi. Sekitar pukul 07.00 hingga 09.00 Wita, alat pemantau kualitas udara milik BMKG di Bandara APT Pranoto mencatat angka 62 dengan kategori tidak sehat. Sementara alat milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda di kawasan Taman Segiri menunjukkan angka 27 dengan kategori baik.
Perbedaan angka tersebut bukan berarti salah satu alat tidak akurat. Kedua perangkat membaca kondisi udara di lokasi masing-masing, yang dapat dipengaruhi sumber asap, arah angin, hingga kondisi lingkungan sekitar.
Plt Kepala DLH Samarinda Suwarso mengatakan, kondisi di sekitar Bandara APT Pranoto masih dipengaruhi asap kebakaran lahan dari sejumlah wilayah.
“Di APT Pranoto masih ada pengaruh kebakaran dan asap dari Sungai Bawang dan Pampang, apalagi ada arah angin menuju bandara,” ujar Suwarso saat dikonfirmasi pada Selasa (22/9/2026)
Sementara alat pemantau DLH berada di kawasan Taman Segiri, tepat di samping Taman Makam Pahlawan. Menurut Suwarso, kondisi di sekitar titik tersebut relatif berbeda karena dalam radius sekitar lima kilometer tidak ditemukan kebakaran lahan maupun asap yang signifikan.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto BMKG Samarinda Riza Arian Noor menjelaskan, alat milik BMKG memang dirancang membaca kondisi udara di sekitar lokasi pemasangan.
“Peralatan kita set-nya ada di Bandara APT Pranoto. Fungsinya mengukur bagaimana kualitas udara di sekitar APT Pranoto,” jelas Riza.
Ia menyebut jangkauan pembacaan bersifat lokal, sekitar satu hingga tiga kilometer dari titik alat. Udara di sekitar lokasi akan masuk ke perangkat untuk kemudian dianalisis. “Dia menyedot udara di sekitar situ,” ujarnya.
Riza menambahkan, pembacaan alat BMKG juga sejalan dengan kondisi jarak pandang di kawasan bandara yang terdampak asap kebakaran.
“Kalau kita lihat dari jarak pandang dan bacaan alat, sinkron saja,” katanya.
Karena itu, angka dari satu titik pemantauan tidak dapat langsung dianggap sebagai gambaran kualitas udara seluruh Samarinda.
“Alat kita juga tidak bisa menggambarkan kondisi di Kota Samarinda seperti itu. Artinya, alat pengukur ini punya batas area,” ungkap Riza.
Ia memastikan selama kebakaran masih terjadi di sekitar bandara, kondisi udara setempat dapat berbeda dengan wilayah lain.
“Masih ada kebakaran perlahan-lahan di samping-samping kita sampai sekarang,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Selasa, 22/09/2026
Potret perbedaan angka kualitas udara dari BMKG (kiri) dan dari DLH (Kanan). (Foto: Adnan Abdul/KoranKaltim.com)
TERPOPULER