Senin, 14/09/2026
Senin, 14/09/2026
Potret udara kebakaran lahan yang terjadi di Belimau Lempake (Dok.Info Taruna Samarinda)
Senin, 14/09/2026

Potret udara kebakaran lahan yang terjadi di Belimau Lempake (Dok.Info Taruna Samarinda)
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Musim kemarau yang masih berlangsung membuat hamparan lahan di sejumlah wilayah Samarinda semakin kering.
Vegetasi yang menguning dan tanah yang kehilangan kelembapan membuat api lebih mudah menjalar ketika kebakaran terjadi. Di tengah kondisi tersebut, Palaran menjadi salah satu kawasan yang paling serius terdampak karhutla hingga membutuhkan penanganan lebih intensif, termasuk dukungan water bombing. Berdasarkan data sementara Pusdalops-PB BPBD Kota Samarinda per 14 September 2026, Palaran mencatat 58 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 149,94 hektare.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kecamatan lainnya di Samarinda. Secara keseluruhan, BPBD mencatat 185 kejadian karhutla sepanjang Januari hingga September 2026. Total luas lahan yang terbakar mencapai 382,93 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah berkembang sehingga penanganan harus dilakukan secara cepat, terutama pada lokasi dengan luasan kebakaran cukup besar.
“Karhutla masih menjadi perhatian kami karena kondisi cuaca yang kering membuat api mudah berkembang. Penanganan terus dilakukan bersama seluruh unsur di lapangan, terutama pada titik-titik yang memiliki luasan cukup besar,” ujar Suwarso pada Senin (14/9/2026). Selain Palaran, Sambutan menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak berikutnya, yakni 50 kejadian dengan luas lahan terbakar 126,47 hektare. Kemudian Samarinda Utara mencatat 32 kejadian dengan luasan 61,35 hektare.
“Memang kejadian karhutla tersebar di beberapa kecamatan. Yang cukup banyak selain Palaran dan Sambutan ada di Samarinda Utara dan Samarinda Ulu. Kecamatan lainnya juga ada, meskipun jumlah kejadiannya lebih sedikit. Sampai sekarang Samarinda Ilir belum tercatat ada kejadian karhutla,” tambahnya. Kondisi kebakaran di sejumlah lokasi membuat pemadaman tidak hanya dilakukan dari darat.
Dukungan water bombing telah dikerahkan di beberapa kawasan, di antaranya Bantuas, Pelita 8 Kecamatan Sambutan, serta kawasan Sungai Siring di sekitar Bandara APT Pranoto. Suwarso mengatakan water bombing menjadi salah satu dukungan penanganan ketika kondisi kebakaran membutuhkan respons lebih cepat.
“Kalau kondisi dan luasan kebakarannya membutuhkan penanganan lebih cepat, kami berkoordinasi untuk mendapatkan dukungan, termasuk water bombing.
Yang penting api bisa dikendalikan dan tidak meluas ke permukiman maupun fasilitas vital,” katanya. Di tingkat kelurahan, Bantuas menjadi wilayah dengan kejadian karhutla tertinggi, yakni 23 kali. Berikutnya Pulau Atas sebanyak 22 kejadian, Makroman 13 kejadian, serta Simpang Pasir dan Lempake masing-masing 12 kejadian.
“Yang paling penting masyarakat tidak melakukan pembakaran saat membuka atau membersihkan lahan, karena kondisi sekarang cukup kering dan api mudah menjalar. Kalau melihat ada titik api, segera laporkan supaya bisa kami tindaklanjuti sebelum kebakaran meluas. Masyarakat bisa menghubungi Call Center 112 yang aktif selama 24 jam,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Senin, 14/09/2026
Potret udara kebakaran lahan yang terjadi di Belimau Lempake (Dok.Info Taruna Samarinda)
TERPOPULER