Dari deretan instalasi yang sebelumnya membatasi produksi seperti IPA Palaran dan Pulau Atas, kini tersisa IPA Bantuas yang masih memberlakukan penyesuaian jam operasional lantaran kadar garam di sumber air bakunya belum stabil dibawah ambang batas 250 ppm.
Asisten Manajer Humas Perumda Tirta Kencana Cevi Wahyudi menyampaikan, pemulihan kualitas air baku terkonfirmasi sejak hasil pemantauan laboratorium pada Sabtu, (12/9/2026) akhir pekan tadi.
Sejumlah unit pengolahan utama seperti IPA Selili, Kalhol, Sungai Kapih, Pulau Atas, Tirta Kencana dan Gunung Lipan, telah berproduksi secara normal. “Hari ini sudah ke kondisi normal,” kata Cevi.
Khusus IPA Bantuas, penyesuaian jadwal produksi dilakukan secara fleksibel. Petugas menguji kadar klorida setiap 15 menit. Begitu kadar garam melonjak, pengolahan dihentikan sementara dan baru dijalankan kembali saat kondisi air baku memungkinkan.
“Tidak ada stop total 24 jam. Hanya pengurangan jam operasional saja. Kalau kloridanya menurun kami produksi, kalau naik distop lagi,” tegasnya.
Meski mayoritas IPA telah berproduksi penuh, pendistribusian ke rumah pelanggan belum sepenuhnya merata. Hal ini dipicu kondisi jaringan pipa yang sempat kosong selama periode penyesuaian produksi, sehingga membutuhkan waktu agar tekanan air kembali terisi secara menyeluruh.
Seiring pulihnya operasional instalasi, fasilitas terminal air gratis di beberapa lokasi, termasuk di IPA Sungai Kapih, telah ditutup. Penyaluran bantuan air tangki kini difokuskan untuk kawasan yang masih mengalami kendala.
“Hanya IPA Bantuas saja, kalau untuk Sungai Kapih, sudah tidak ada lagi,” tambahnya.
Perumda Tirta Kencana terus memantau pergerakan kualitas air baku hingga 10 hari ke depan, seraya mengamati potensi curah hujan di kawasan hulu maupun Kota Tepian.
Masyarakat pun diminta tetap menggunakan air secara bijak dan menampung pasokan secukupnya. “Mudah-mudahan di hulu ada hujan, di Samarinda ada hujan juga, mudah-mudahan tidak ada lagi intrusi air asin,” harap Cevi.
Editor: Aspian Nur