Jumat, 11/09/2026
Jumat, 11/09/2026
Persawahan di Makroman saat mendapat pasokan air dari bekas lubang tambang. (Foto: Adnan/Korankaltim.com)
Jumat, 11/09/2026

Persawahan di Makroman saat mendapat pasokan air dari bekas lubang tambang. (Foto: Adnan/Korankaltim.com)
Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Musim kemarau yang berkepanjangan mulai menggerus ketersediaan air di sejumlah wilayah pertanian di Kota Samarinda. Di Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, kondisi tersebut membuat petani kesulitan memperoleh pasokan air hingga puluhan hektare sawah terpaksa menunda masa tanam.
Salah satu kawasan yang terdampak berada di lahan garapan Kelompok Tani Harapan Baru. Sekitar 42 hektare sawah kini masih menunggu suplai air sebelum dapat kembali diolah dan ditanami.
Ketua Kelompok Tani Harapan Baru Mat Kosim Kulup mengatakan, persoalan utama yang dihadapi petani bukan hasil panen sebelumnya, melainkan keterbatasan air untuk memulai musim tanam baru.
“Kalau kemarau, airnya kering. Jadi mau tidak mau kami membutuhkan bantuan mesin pompa air,” ujarnya, Jumat (11/9/2026).
Menurut Mat Kosim, luasan lahan yang dikelola dua kelompok tani di kawasan tersebut bahkan bertambah dari sebelumnya sekitar 32 hektare menjadi sekitar 42 hektare.
Namun, peningkatan luasan tersebut belum diikuti ketersediaan air. Petani akhirnya belum dapat melakukan pengolahan tanah secara maksimal.
“Panen sebelumnya tidak gagal. Masalahnya sekarang kami mau tanam lagi, tetapi tertunda karena air belum ada,” katanya.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Makroman, Susana, menyebut keterlambatan air membuat jadwal tanam bergeser. Padahal, memasuki September petani seharusnya sudah berada pada tahap persiapan lahan.
“Seharusnya awal September sudah mulai olah tanah. Karena air tidak tersedia, akhirnya tanamnya tertunda,” jelasnya.
Ia menambahkan, produktivitas lahan pertanian Makroman tergolong cukup baik. Setiap hektare dapat menghasilkan sekitar 4,5 sampai 5 ton gabah. Dengan demikian, semakin lama lahan tidak ditanami, semakin besar pula potensi mundurnya masa panen.
Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian BPBD Kota Samarinda. Kepala BPBD Samarinda Suwarso mengatakan, pihaknya mengerahkan peralatan untuk membantu mengalirkan air ke area persawahan.
“Kami sedang membantu Kelompok Tani Harapan Baru mengalirkan air ke sawah yang mengalami kendala untuk memulai tanam,” katanya.
BPBD mengoperasikan mesin penyedot berkapasitas besar dengan pipa enam inci. Sumber air diambil dari sejumlah void bekas tambang yang masih memiliki cadangan air.
“Bukan hanya di Makroman, kami juga sudah melakukan pengaliran air di enam lokasi persawahan lainnya. Secara keseluruhan ada tujuh titik dengan luasan kurang lebih 207 hektare yang sudah kami bantu pengairannya,” ungkapnya.
Suwarso menyebut kebutuhan serupa masih ditemukan di kelompok tani lain, termasuk Karanganyar. BPBD akan kembali menyiapkan mesin pompa dan perlengkapan pendukung untuk memperluas pengairan.
“Kami akan siapkan kembali mesin sejenis dompeng dan peralatan lainnya agar pengaliran air bisa lebih cepat,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Jumat, 11/09/2026
Persawahan di Makroman saat mendapat pasokan air dari bekas lubang tambang. (Foto: Adnan/Korankaltim.com)
TERPOPULER