Meski demikian, nilainya sudah berada di atas kondisi normal yang umumnya berada pada rentang 0 hingga 15 mikrogram per meter kubik. “Untuk kualitas udara terakhir sekitar pukul 11.00 Wita, kita berada di angka 37 mikrogram per meter kubik atau kategori sedang,” kata Riza.
Ia menjelaskan, kualitas udara akan masuk kategori tidak sehat apabila konsentrasi partikulat telah melewati 55 mikrogram per meter kubik. Penurunan kualitas udara juga terlihat dari kondisi jarak pandang di Bandara APT Pranoto Samarinda yang pada sekitar pukul 12.00 Wita berada di kisaran 5 kilometer.
Riza menyebut, kondisi tersebut bisa dipengaruhi asap kebakaran lahan dari wilayah sekitar Samarinda. Pergerakan asap sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin sehingga dapat berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya. “Samarinda ini berada di tengah-tengah Kabupaten Kutai Kartanegara. Kalau ada asap, tidak ada batas wilayah.
Ke mana angin berhembus, ke situ asap bisa terbawa,” jelasnya. Sementara itu, pemantauan satelit pada 29 Agustus menunjukkan terdapat sekitar 1.556 titik panas di Kalimantan Timur. Namun, BMKG menegaskan data tersebut tidak serta-merta menunjukkan jumlah kebakaran yang terjadi. “Titik panas itu belum tentu kebakaran. Data satelit merupakan gambaran umum untuk monitoring,” terangnya.
BMKG mengingatkan warga mengurangi aktivitas di luar ruangan jika kondisi udara semakin memburuk. Masker juga disarankan digunakan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar rumah, terutama saat kabut dan bau asap mulai terasa.
“Kami sarankan masyarakat menjaga kesehatan dengan menggunakan masker kalau keluar rumah, apalagi kalau sudah terlihat kabur dan tercium bau asap,” tegas Riza.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim dr Jaya Mialimin mengatakan, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi dengan menerbitkan surat edaran dan melakukan koordinasi bersama sejumlah pemerintah daerah.
“Sudah ada edaran, termasuk juga rapat koordinasi dengan beberapa kabupaten dan kota,” kata Jaya.
Dinkes Kaltim juga mulai mendistribusikan logistik, termasuk masker, ke daerah yang berpotensi terdampak. Beberapa wilayah seperti Berau dan Paser turut menjadi perhatian karena dilaporkan terdapat titik api. “Kita sudah kirim beberapa logistik, termasuk masker,” pungkasnya.
Editor: Erwin