160 Hektare Lahan Terbakar, Samarinda Naikkan Status Tanggap Darurat
2 menit baca0 kali dibaca

Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meluas di Samarinda seiring puncak musim kemarau.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kota Samarinda meningkatkan status penanganan dari siaga darurat menjadi tanggap darurat.
Hingga Kamis (27/8/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda mencatat 102 kejadian kebakaran lahan dengan total area terdampak mencapai sekitar 160 hektare.
Plh Kepala Pelaksana BPBD Samarinda Romiansyah mengatakan, kebakaran telah muncul hampir di seluruh wilayah kecamatan. Samarinda Kota menjadi satu-satunya kecamatan yang belum tercatat mengalami kejadian serupa.
“Data terakhir per hari ini ada sekitar 102 kejadian dengan luas lahan yang terbakar kurang lebih 160 hektare. Hampir semua kecamatan terdampak, kecuali Samarinda Kota,” kata Romiansyah.
Pemerintah sebelumnya menetapkan status siaga darurat mulai 20 Agustus. Namun, meningkatnya jumlah kejadian membuat status tersebut dinaikkan menjadi tanggap darurat yang berlaku selama 14 hari, terhitung sejak 26 Agustus hingga 7 September 2026.
“Peningkatan status ini bukan hanya untuk penanganan kebakaran lahan, tetapi juga mengantisipasi dampak kemarau, termasuk persoalan ketersediaan air bersih dan dampaknya terhadap masyarakat,” tambahnya
BPBD kemudian mengaktifkan sistem komando dan membentuk posko terpadu sebagai pusat pengendalian operasi. Posko tersebut melibatkan perangkat daerah, instansi terkait, relawan hingga unsur pendukung lainnya.
“Dengan diberlakukannya tanggap darurat, sistem komando langsung kita aktifkan untuk memperkuat koordinasi seluruh unsur yang terlibat,” ujarnya.
Untuk mendukung operasi di lapangan, BPBD mengandalkan dua unit mobil tangki air. Armada tersebut juga digunakan membantu distribusi air bersih ke sejumlah kelurahan yang mulai terdampak berkurangnya layanan Perumdam Tirta Kencana, khususnya kawasan Sambutan dan Palaran.
“Untuk lokasi yang sulit dijangkau kendaraan besar, kami mengandalkan sekitar 8 sampai 10 unit mesin pemadam portabel. Penanganan di lapangan juga diperkuat personel pemadam kebakaran, petugas posko dan relawan,” tegasnya
Di tengah kondisi tersebut, pemantauan hotspot terus dilakukan. Data BMKG Stasiun APT Pranoto pada Kamis mencatat sekitar lima titik panas terpantau di wilayah Samarinda.
Romiansyah mengimbau masyarakat tidak menggunakan api untuk membuka maupun membersihkan lahan.
“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran saat membersihkan lahan karena kondisi sekarang sangat mudah memicu kebakaran,” tegasnya.
Meski sejumlah titik api berada dekat permukiman, BPBD memastikan belum ada warga yang harus mengungsi.
“Alhamdulillah sampai sekarang belum ada pengungsian. Titik terakhir memang cukup dekat dengan permukiman, tetapi masih dalam kondisi aman,” pungkasnya.
Editor: Erwin









