Upaya ini membuahkan hasil nyata setelah sejumlah peternak di Kota Tepian mampu menghasilkan ternak berukuran besar melalui program pembibitan serta inseminasi buatan (IB).
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapangtani) Samarinda Maskuri menyebut, keberhasilan tersebut tercermin dari sapi kurban bantuan Presiden RI Prabowo Subianto untuk Samarinda tahun ini.
Sapi jenis limosin bernama “Miliar” dengan bobot 995 kilogram atau nyaris satu ton tersebut merupakan hasil budidaya peternak lokal.
“Ini salah satu contoh keberhasilan teman-teman peternak dan pemasok yang ikut menyukseskan ketersediaan sapi kita,” ujar Maskuri.
Para pemasok sapi dari luar daerah memang diwajibkan melakukan pembiakan sebagai bagian dari strategi pengembangan sektor peternakan di Samarinda. Setiap penyedia sapi dalam jumlah besar diharuskan turut mengelola pembibitan di daerah.
“Dulu aturannya, setiap mendatangkan seribu sapi harus punya breeding sekitar 10 ekor, dan ini salah satu hasil budidayanya,” jelasnya.
Mayoritas peternak saat ini menjalankan usaha secara terpadu, di mana kegiatan peternakan dilakukan berdampingan dengan sektor pertanian maupun perkebunan.
Pengembangan sapi unggul juga terus dipacu lewat program inseminasi buatan menggunakan bibit berkualitas, seperti limosin hingga belgian blue.
“Sekarang kami sudah punya stok sperma beku lengkap. Tinggal peternaknya menyiapkan indukan,” katanya.
Saat ini, Samarinda masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, terutama Kupang dan Sulawesi.
Oleh karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda konsisten mendorong peningkatan populasi ternak lokal untuk mengurangi ketergantungan tersebut secara bertahap.
Selain meningkatkan kualitas, langkah ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat.
Data Distapangtani mencatat, populasi sapi lokal di Samarinda mencapai 4.200 ekor. Adapun pasokan sapi kurban yang masuk hingga Iduladha tahun ini diperkirakan lebih dari 15 ribu ekor.
Ketersediaan sapi kurban sejatinya dalam kondisi surplus, meskipun daya beli masyarakat tercatat mengalami penurunan dibanding tahun lalu.
“Estimasi serapan sekitar 9 ribuan ekor. Jadi sebenarnya masih surplus sekitar 6 sampai 7 ribu ekor, hanya saja harga naik karena biaya transportasi meningkat,” tuturnya.
Meski pemenuhan protein hewani sejauh ini mencukupi, tingkat ketergantungan terhadap kiriman dari luar daerah perlu terus ditekan.
“Kami berharap ke depan ketergantungan terhadap sapi dari luar bisa terus berkurang karena peternak lokal sudah mulai mampu menghasilkan sapi-sapi besar,” tandasnya.
Editor: Erwin