Hal itu mengemuka dalam kegiatan Sekolah Politik Perempuan dan Diseminasi Publik yang digelar Voice of Democracy Indonesia (Vodem.id) pada Minggu (24/5/2026).
Kegiatan bertema “Dari Suara Perempuan Menuju Kebijakan Publik yang Inklusif” tersebut menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah dan legislatif untuk membahas tantangan partisipasi politik perempuan menuju Pemilu 2029.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Samarinda, Yosua Laden menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pilihan politik, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Pengalamannya saat bertugas di tingkat kecamatan menunjukkan bahwa ibu rumah tangga memiliki pengaruh besar dalam membentuk keputusan politik di keluarga.
“Saat saya bertugas di kecamatan, saya lebih memilih menyasar ibu-ibu karena mereka memiliki kekuatan dalam memengaruhi suara di keluarga,” ujar Yosua.
Keterlibatan perempuan menjadi penting untuk memperkuat kualitas demokrasi, terutama menghadapi dinamika politik menjelang Pemilu 2029 yang diperkirakan mengalami banyak perubahan, baik dari sisi teknis penyelenggaraan maupun pola kampanye.
Ia pun mendorong masyarakat menjadi pemilih cerdas dan kritis agar tidak mudah terpengaruh praktik politik uang. Mulai dari melihat rekam jejak kandidat dibandingkan sekadar janji kampanye atau kekuatan logistik saat pemilu berlangsung.
“Banyak yang terpilih karena kekuatan logistik, tetapi setelah menjabat justru tidak hadir di tengah warga,” katanya.
Di sisi lain, Kesbangpol Samarinda juga mulai menyesuaikan metode pendidikan politik dengan perkembangan era digital.
Sosialisasi yang sebelumnya dominan dilakukan secara tatap muka kini diperluas melalui media sosial, seperti TikTok, Instagram, dan Facebook, guna menjangkau generasi muda.
“Kami berharap melalui momentum ini, kesadaran berdemokrasi masyarakat, khususnya perempuan, semakin meningkat untuk menciptakan ekosistem politik yang lebih sehat di 2029 nanti,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti menyoroti pentingnya dukungan lingkungan dan sistem yang memadai bagi perempuan untuk berkembang di ruang publik maupun politik.
Ia menyatakan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai ibu rumah tangga, tetapi juga perlu diberikan ruang untuk mengaktualisasikan kemampuan diri.
“Bagaimana perempuan bisa membangun dirinya sendiri kalau di sekitarnya pondasinya tidak disiapkan?” katanya.
Politikus Partai Demokrat ini juga mengakui tantangan yang dihadapi perempuan dalam dunia politik masih cukup besar, termasuk dukungan finansial yang dinilai belum seimbang dibandingkan laki-laki.
“Ini semacam sistem yang memang perlu kita ubah bersama,” pungkasnya.
Editor: Erwin