Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda, Diana Pida Juliadi mengatakan pelaksanaan festival yang bertepatan dengan libur sekolah itu diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan ke Samarinda.
“Mungkin itu juga menjadi daya tarik bagi pengunjung,” kata Diana.
Jika biasanya ajang ini identik dengan pertunjukan khas suku lokal, maka kini sasarannya diperluas dengan melibatkan kesenian lain yang hidup berdampingan di kawasan Pampang.
“Nanti tarian Dayak masuk, setelah itu tarian Bugis, lalu tarian Jawa. Jadi, pengunjung tidak monoton hanya menyaksikan budaya tertentu saja,” jelasnya.
Kerja sama lintas sektor tersebut turut melibatkan mahasiswa dan komunitas asal Makassar melalui sinergi dengan Festival Bidakara.
Tak hanya itu, pameran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal ikut menyemarakkan kegiatan. Salah satu komoditas unggulan yang dipromosikan adalah batik khas Pampang yang saat ini tengah diproses untuk pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Disporapar Samarinda juga mulai melakukan pendampingan sertifikasi halal bagi pelaku usaha kuliner di wilayah tersebut agar hidangan tradisional aman dinikmati seluruh pelancong, termasuk wisatawan Muslim.
“Kita ingin kuliner khas mereka juga bisa dinikmati semua kalangan, termasuk pengunjung Muslim,” katanya.
Diana menyebutkan, kunjungan wisatawan ke destinasi ini tergolong tinggi, yakni mampu mencapai 3 ribu hingga 7 ribu orang selama masa pelaksanaan.
Dari sisi fasilitas, perhatian pemerintah terhadap kawasan hilir pariwisata tersebut diklaim terus meningkat. Salah satu rencana yang tengah dibahas adalah pembangunan lamin baru karena kapasitas bangunan saat ini dinilai mulai terbatas.
“Harapannya nanti ada pengembangan lamin yang lebih besar lagi ke depan,” tutupnya.
Editor: Erwin