Perhatian terhadap kondisi kerja tenaga medis muda ini setelah meninggalnya dokter internship, dr. Myta Aprilia Azmi, di Jambi akibat infeksi paru berat yang diduga dipengaruhi kelelahan kerja.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin menegaskan pihaknya tidak akan mentoleransi rumah sakit maupun wahana pendidikan yang memberikan beban kerja di luar batas kewajaran kepada dokter internship.
Menurutnya, fasilitas kesehatan yang terbukti melanggar aturan dapat dikenai sanksi tegas hingga pencabutan status sebagai lokasi program internship.
“Setiap pelaksanaan program selalu dilakukan evaluasi dan pengawasan secara berkala. Jika ditemukan adanya indikasi eksploitasi terhadap dokter internship, maka rumah sakit tersebut tidak akan lagi digunakan sebagai wahana penempatan ke depan,” ujar Jaya, Kamis (14/5/2026).
Pernyataan tersebut juga menjadi respons atas munculnya informasi terkait dugaan jam kerja berlebihan di salah satu rumah sakit di Kaltim.
Meski belum ditemukan pelanggaran resmi, Dinkes memastikan sistem pengawasan tetap berjalan ketat untuk mencegah terjadinya praktik yang merugikan tenaga medis muda.
Jaya menjelaskan, setiap kelompok dokter internship yang terdiri dari sekitar 10 orang akan didampingi dan dipantau langsung oleh dokter pembimbing.
Mekanisme evaluasi juga dilakukan secara rutin guna memastikan kondisi kerja para dokter tetap aman dan sesuai ketentuan.
Selain memantau aspek pelayanan medis, pengawasan juga mencakup kondisi psikologis, kenyamanan kerja, hingga potensi perundungan atau bullying di lingkungan rumah sakit.
Dinkes Kaltim menyebut pelaksanaan program internship di wilayah tersebut sejauh ini berjalan kondusif. Dari total 71 dokter internship yang bertugas sepanjang tahun ini, seluruhnya dinyatakan menyelesaikan program dengan hasil evaluasi yang baik.
Menurut Jaya, tidak ditemukan laporan terkait eksploitasi kerja, intimidasi, maupun ketidaknyamanan selama para dokter menjalani masa internship di berbagai fasilitas kesehatan di Kaltim.
“Alhamdulillah seluruh peserta lulus dengan baik. Dari hasil evaluasi yang kami terima, tidak ada laporan mengenai bullying, eksploitasi, ataupun masalah serius lainnya. Bahkan jika ada dokter yang sakit, kami pastikan akan difasilitasi dan mendapatkan perhatian,” jelasnya.
Sebanyak 71 dokter internship tersebut ditempatkan di sejumlah kabupaten dan kota di Kaltim, guna membantu pelayanan kesehatan masyarakat. Penempatan dilakukan di berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan pemerintah.
Beberapa rumah sakit di Samarinda yang menjadi lokasi penugasan antara lain Rumah Sakit Tentara, RSUD IA Moeis, dan Rumah Sakit SMC.
Kehadiran dokter internship dinilai membantu memenuhi kebutuhan layanan kesehatan, terutama di tengah keterbatasan jumlah tenaga medis.
Di sisi lain, Dinkes Kaltim mengakui tantangan utama sektor kesehatan saat ini adalah masih kurangnya jumlah dokter dibandingkan jumlah penduduk. Dengan populasi Kaltim yang kini mencapai sekitar 4 juta jiwa, kebutuhan tenaga medis dinilai terus meningkat.
Saat ini jumlah dokter di Kaltim tercatat lebih dari 2.000 orang, meningkat dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran 1.900 dokter. Namun angka tersebut masih belum memenuhi rasio ideal tenaga kesehatan.
“Untuk mencapai rasio ideal satu dokter melayani seribu penduduk, Kaltim masih membutuhkan sekitar 1.500 dokter tambahan,” pungkasnya.
Editor: Erwin