Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Umum Setda Kaltim, Astri Intan Nirwany, menyampaikan angka itu tidak sepenuhnya dialokasikan untuk satu bangunan, melainkan merupakan total dari puluhan paket pekerjaan.
Astri menjelaskan, total anggaran Rp25 miliar terdiri dari 55 paket belanja yang mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari pemeliharaan serta rehabilitasi aset milik pemerintah provinsi.
Dari jumlah tersebut, kata dia, hanya sekitar Rp 3 miliar yang benar-benar digunakan untuk rehabilitasi rumah jabatan gubernur.
“Jadi tidak benar jika disebut seluruh anggaran Rp 25 miliar itu hanya untuk satu rumah jabatan. Itu adalah akumulasi dari berbagai pekerjaan, termasuk perbaikan gedung-gedung lain dan sarana pendukung,” ujar Astri dalam jumpa pers di Kantor Diskominfo Kaltim, Selasa (5/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut dirinya juga menyayangkan, adanya pemberitaan yang dinilai tidak utuh dan menimbulkan persepsi keliru di masyarakat. Menurutnya, pengambilan data mentah dari sistem tanpa penjelasan rinci berpotensi menyesatkan.
Astri menjelaskan, Biro Umum sendiri memiliki peran penting dalam mendukung operasional pimpinan daerah. Tugasnya meliputi pelayanan administrasi, pengelolaan keuangan, hingga pemeliharaan aset dan fasilitas penunjang kegiatan pemerintahan.
“Aset yang kita kelola pun tidak sedikit, selain rumah jabatan gubernur, kita juga bertanggung jawab atas rumah jabatan wakil gubernur, gedung pertemuan, guest house, fasilitas olahraga, hingga ruang VIP di bandara,” ucapnya.
Tak hanya itu, dia menuturkan untuk pengelolaan aset juga mencakup convention hall, serta kawasan Islamic Center yang kerap digunakan untuk kegiatan masyarakat dan pemerintahan.
“Anggaran yang kami kelola memang besar, karena mencakup banyak fasilitas yang digunakan pimpinan, tamu negara, hingga masyarakat umum. Semua itu harus tetap dalam kondisi layak dan representatif,” katanya.
Astri mengungkapkan, perencanaan rehabilitasi sebenarnya telah dilakukan jauh sebelumnya, bahkan sejak 2024, sebagai bagian dari persiapan pergantian kepala daerah. Apalagi kala itu, menurutnya kondisi sejumlah bangunan dinilai sudah memprihatinkan.
Beberapa kerusakan yang ditemukan antara lain seperti instalasi listrik yang tidak berfungsi, pipa air bermasalah, hingga kebocoran parah di beberapa bagian bangunan. Bahkan, kondisi tersebut sempat diperparah oleh cuaca ekstrem.
“Kerusakan itu nyata, jadi bukan dibuat-buat. Kita juga punya dokumentasi langsung dari lapangan sebagai dasar perencanaan rehabilitasi,” terangnya.
Editor: Erwin