Pernyataannya dinilai disampaikan dengan nada bercanda dan tidak menunjukkan empati terhadap korban.
Biro Hukum TRC PPA Kaltim Sudirman, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Mandala. Ia menilai peristiwa itu sebagai tragedi kemanusiaan di tengah masih adanya ketimpangan sosial di dunia pendidikan.
“Yang pertama, kami mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Mandala. Ini bukan sekadar kejadian biasa, tapi tragedi kemanusiaan di dunia pendidikan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (3/5/2026).
Ia mengatakan telah melihat langsung video pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Kaltim terkait kasus tersebut, dan menilai cara penyampaiannya yang disertai tawa serta narasi “meninggal karena sepatu” dinilai tidak pantas dan berpotensi melukai perasaan keluarga korban.
“Saya sangat mengecam apa yang dilakukan Pak Kadis. Cara penyampaian yang disertai senyum, tertawa, bahkan terkesan bercanda dalam menanggapi kematian seorang siswa, itu tidak mencerminkan seorang pemimpin,” tegasnya.
Menurut Sudirman, pejabat publik di sektor pendidikan seharusnya menjadi pengayom dan menunjukkan kepekaan terhadap persoalan peserta didik. Ia menilai sikap tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dalam dunia pendidikan.
Selain itu, TRC PPA juga menyoroti program “gratis pol” yang dinilai belum merata. Program tersebut disebut masih terbatas bagi siswa kelas satu, sehingga belum menjangkau seluruh siswa yang membutuhkan.
“Program ini kami apresiasi, tetapi harus tepat sasaran. Jangan hanya kelas satu, kelas dua dan tiga juga harus diperhatikan, terutama bagi mereka yang kurang mampu,” katanya.
Ia mencontohkan Mandala yang tidak menerima manfaat program tersebut karena bukan siswa kelas satu. Sudirman juga menekankan pentingnya peran sekolah, khususnya guru bimbingan konseling (BK), dalam memahami kondisi sosial ekonomi siswa sejak dini.
TRC PPA Kaltim mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pihak terkait agar peristiwa serupa tidak terulang.
Editor: Erwin