Kepala BMKG Kota Samarinda Riza Arian Noor menyatakan, prakiraan musim memegang peranan strategis bagi lintas sektor dalam menyusun langkah antisipasi, mulai dari urusan agraria hingga mitigasi bencana.
“Informasi cuaca dan iklim yang akurat menjadi kunci dalam mendukung ketahanan pangan serta langkah preventif mitigasi bencana seperti kebakaran hutan dan kekeringan,” ujar Riza pada Kamis, (16/4/2026).
Melalui Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda, BMKG terus berupaya meningkatkan pemahaman publik mengenai dinamika atmosfer beberapa bulan ke depan.
Riza juga meluruskan istilah El Nino Godzilla yang kerap diperbincangkan masyarakat. Secara ilmiah, BMKG hanya mengklasifikasikan fenomena tersebut berdasarkan tingkat intensitasnya.
“Yang kami kenal adalah El Nino dengan intensitas tertentu, yaitu lemah, moderat, dan tinggi,” jelas Riza.
Berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer awal April, kondisi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) dan El Niño-Southern Oscillation (ENSO) saat ini berada pada fase netral.
Namun, BMKG memproyeksikan ENSO berpotensi berkembang menjadi El Nino lemah pada periode Mei hingga Juli 2026. Perkembangan ini dipastikan bakal memengaruhi pola musim di Kaltim.
Analisis data iklim menunjukkan Kaltim terbagi dalam 20 zona musim. Sebanyak 16 zona memiliki siklus musim hujan dan kemarau yang jelas, sementara empat zona lainnya terpantau mengalami hujan sepanjang tahun, khususnya di bagian barat seperti Kabupaten Mahakam Ulu dan sebagian Kutai Barat.
Awal musim kemarau di Benua Etam secara umum diprediksi jatuh pada rentang Juni hingga Agustus. Sekitar 40 persen wilayah zona musim diperkirakan mulai memasuki fase kering pada Juni mendatang.
Kondisi ini diharapkan menjadi rujukan instansi terkait seperti BPBD dan pengelola sumber daya air untuk mematangkan strategi mitigasi lebih dini. Jika dikomparasikan dengan rata-rata data 30 tahun terakhir, sebagian wilayah diprediksi terpapar kemarau lebih cepat.
Rinciannya, 45 persen wilayah memiliki pola musim normal, sementara 35 persen lainnya diprediksi mengalami kemarau lebih awal dari biasanya.
BMKG juga memproyeksikan sifat hujan sepanjang 2026 berada pada kategori di bawah normal hingga normal.
Situasi ini menjadi sinyal kewaspadaan tinggi bagi sektor pertanian dan manajemen air. Adapun puncak musim kemarau diperkirakan jatuh pada Agustus dengan durasi berkisar tiga hingga empat bulan.
Riza berharap rilis prakiraan ini dapat dioptimalkan pemerintah daerah maupun masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan.
“Kami berharap informasi yang disampaikan dapat bermanfaat khususnya untuk kesiapsiagaan kita dalam menghadapi musim kemarau,” tutupnya.
Editor: Erwin